Opini

14 Februari 2024 Bukan Hari Valentine tapi Hari Perubahan Indonesia

Yayat R Cipasang
×

14 Februari 2024 Bukan Hari Valentine tapi Hari Perubahan Indonesia

Sebarkan artikel ini

Tidak ada lagi ruang dalam wacana mereka, 14 Februari sebagai “Hari Keberlanjutan”. Maaf, garing banget!

DALAM soal narasi calon presiden nomor 01 Anies Baswedan memang tidak pernah miskin diksi dan konsep. Anies selain menyerupai kamus juga seperti tesaurus berjalan. Plus, istilah yang dilontarkan pun tepat momentumnya.

Isu Perubahan yang diusung pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar (AMIN), kembali mendapat momentumnya dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat pulang kampung liburan Tahun Baru ke Yogyakarta Anies tidak sekadar mengenang masa kecil hingga masa mahasiswa, reuni dan bersilaturahmi dengan guru-guru tetapi dimanfaatkannya untuk menggelorakan semangat Perubahan dari Jalan Malioboro.

“Insya Allah 14 Februari kita sebut sebagai Hari Perubahan Indonesia. Kita tetapkan itu sebagai Hari Perubahan,” kata Anies di depan ribuan orang. “Indonesia akan mengambil jalan baru, untuk adil dan makmur bagi semua,” tambahnya.

“Aamiin!” sambut pengunjung.

Di antara dua capres lainnya, Anies memang sangat paripurna dalam gagasan, narasi dan aksi. Walau kadang kelebihan ini disebut musuhnya sebagai talk only. Namun, kinerja dan legasi yang ditinggalnya selama menjabat genap lima tahun di Jakarta, kontan menganulir semua sebutan dan tuduhan miring tersebut. Buzzer yang kini terpencar lantaran berbeda kakak pembina dan juga pendukung calon lain, terpaksa nyinyir dan menuduh tidak sesuai fakta dan data, lantaran minder dan memang tunagagasan.

Bagi capres lain, 14 Februari hanyalah sebagai Hari Valentine dan juga Hari Pemilu 2024. Tidak lebih dari itu. Tapi bagi Anies, 14 Februari tidak sekadar itu. 14 Februari bagi Anies harus memiliki nilai yang bisa menggerakkan tidak hanya untuk diri sendiri, komunitas atau kelompok tetapi juga untuk seluruh bangsa Indonesia. Sungguh konsep dan pencanangan yang cerdik dari seorang Anies.

Anies Selalu di Depan

Anies memang selalu di depan. Maaf ini bukan niru iklan sebuah merek sepeda motor. Tetapi memang kenyataannya seperti itu. Kalau Anda jalan-jalan ke Kota Depok, Jawa Barat, sepanjang jalan utama dan jalan rusak pasti yang ditemukan spanduk capres Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud MD. Spanduk dan baliho Anies sangat sedikit.

Dan baliho serta spanduk itu tidak efektif. Apalagi di musim hujan dan angin seperti sekarang banyak baliho Prabowo-Gibran yang rungkad dan jungkir balik. Begitu juga spanduk di sepanjang pagar kereta Jakarta – Bogor ke arah Citayam nyaris tak ada spanduk Prabowo-Gibran yang terpasang utuh. Hampir semua talinya putus dan berkibar-kibar menganggu pengendara mobil dan sepeda motor. Maklum vendor atau kontraktor yang memasangnya sembarangan karena sepertinya nggak pakai hati yang penting cuan.

Pasangan AMIN yang tidak jor-joran memasang baliho dan spanduk memang ada benarnya juga. Justru Anies memanfaatkan medium lain untuk berkampanye yaitu dengan tatap muka, diskusi seperti Desak Anies dan juga memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok.

TikTok yang bagi capres lain hanya alat narsis dan nyaris menjadi album atawa jurnal keseharian, oleh Anies justru disulap menjadi wahana ngobrol, sharing dan berdiskusi. Isu yang dibahas tidak mengharuskan kening berkerut tetapi justru menjadi ajang tertawa. Bahkan bagi sebagian pengguna TikTok dan netizen, kehadiran Anies dalam TikTok live pertama yang melibatkan lebih dari 300 ribu viewers dan pada live kedua lebih dari 400 ribu viewers menjadi oase. Anies hadir tidak sekadar sebagai seorang capres tetapi bisa bersalin rupa menjadi teman dan ayah.