Terkini

17 Tahun Berlalu, Dampak Lumpur Lapindo Masih Dirasakan Hingga Sekarang

Anatasia Wahyudi
×

17 Tahun Berlalu, Dampak Lumpur Lapindo Masih Dirasakan Hingga Sekarang

Sebarkan artikel ini
Luapan lumpur Lapindo (tangkapan layar Youtube)

Sebuah studi mengungkapkan, lumpur Sidoarjo atau lumpur Lapindo merupakan situs penyumbang emisi gas metana terbesar di bumi.

BARISAN.CO – Petaka atas tangan manusia dapat menghancurkan alam. Salah satu contoh nyata yang dapat dilihat di Lumpur Lapindo.

Semburan lumpur itu belum terhenti, meski telah 17 tahun berlalu. Awal mula bencana ini terjadi kala PT Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur di desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo selama 3 bulan untuk mencapai kedalaman 10.300 kaki. Namun, baru mencapai 9.297 kaki, ledakan lumpul pertama terjadi.

Para ahli berpendapat, ini terjadi karena ketika pengeboran berlangsung, lubang sumbur tidak dipasangi casing, sehingga fluida menekan ke atas dan mengakibatkan semburan lumpur.

Fluida itu kemudian mencari jalan lain untuk keluar setelah lubang sumur ditutup. Wilayah sekitar pun terdampak akibat semburan fluida tersebut.

Sebuah tanggul yang dibangun untuk menahan laju sebaran lumpur pun jebol pada 10 Agustus 2006. Akibat semburan panas tersebut, 25 ribu warga dari 3 kecamatan yang terdampak terpaksa mengungsi.

Parahnya lagi, tidak hanya menghancurkan pemukiman, semburan lumpur itu juga mengganggu jalur transportasi Surabaya-Malang, menyebabkan meledaknya pipa gas Pertamina akibat penurunan tanah, dan pipa air milik PDAM Surabaya patah. Selain itu, kerusakan lingkungan juga tidak dapat dihindari.

Sebuah studi mengungkapkan, lumpur Sidoarjo atau lumpur Lapindo merupakan situs penyumbang emisi gas metana terbesar di bumi. Mengutip Mongabay, studi itu menemukan, sejak awal kemunculannya, semburan yang dihasilkan mencapai 18.000 meter kubik. Penelitian itu hasil dari pengamatan selama selama 10 tahun yang melibatkan sejumlah lembaga dari dalam maupun luar negeri.

Setiap tahunnya, jumlah gas yang keluar dari semburan lumpur Lapindo ke atmosfer mencapai 100.000 ton.

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) mencatat, utang terkait lumpur Lapindo milik Aburizal Bakrie ke negara sebesar Rp2,23 triliun per 30 Desember 2022. Nilai utang tersebut sudah termasuk denda dan bunga.

Perusahaan Bakrie berdasarkan awal kesepakatan seharusnya telah melunasi utang tersebut pada 2019 lalu. Namun kenyataannya, baru mencicil satu kali sebesar Rp5 miliar dari total utang Rp773,8 miliar.

Jumlah utang tersebut akan terus membengkak, seiring dengan denda yang terus berjalan.

Persoalan lainnya adalah metana bertanggung jawab atas sekitar 30 persen kenaikan suhu global sejak Revolusi Industri, yang itu akan berdampak pada gas rumah kaca. Metana juga memengaruhi kualitas udara karena dapat menyebabkan ozon permukaan tanah alias troposfer.

Selama beberapa dekade, upaya mitigasi perubahan iklim dipusatkan pada pengurangan karbon dioksida atau CO2. Namun, laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Ilim Perserikatan Bangsa-Bangsa (IPCC) telah meminta perhatian pada peran gas lainnya dalam pemanasan global yakni metana. Metana kini telah dianggap sebagai penyumbang terbesar pemanasan global kedua setelah CO2.

Lumpur Lapindo jelas bukan hanya merugikan perekonomian saja, namun dampak jangka panjang dari semburan yang dihasilkan masih akan dirasakan.

Jika ingin berandai-andai sebelum bencana ini terjadi, tentu akan lebih nikmat. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Semoga bencana seperti ini tidak lagi terjadi di negeri ini. [rif]