Lingkungan

5 Alasan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon Bukan Solusi Transisi Energi

Anatasia Wahyudi
×

5 Alasan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon Bukan Solusi Transisi Energi

Sebarkan artikel ini

Selain mahal, penangkapan dan penyimpanan karbon justru bisa menimbulkan emisi yang lebih besar dan bencana alam.

BARISAN.CO – Pemerintah menyiapkan berbagai rencana dalam mengejar target emisi nol bersih. Salah satunya melalui teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture Storage/Carbon Capture Storage and Utilization).

Selain mengembangkan teknologi ini, pemerintah sedang menyusun Peraturan Presiden (Perpres) yang akan memuat tentang pelaksanaan CCS/CCUS di mana target CCS Hub akan masuk di dalam salah satu pasal.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia, Bambang Tjahtjono menilai teknologi Carbon Capture Storage and Utilization kurang efisien karena memerlukan biaya yang besar.

“Problem PLTU menghasilkan CO2, tapi solusinya hanya carbon capture. Karbon ditanam di tanah, bisa berapa persen dari seluruh PLTU yang dikerjakan seperti itu? Cost-nya berapa untuk jauh-jauh ke sana,” papar Bambang, Rabu (23/8/2023).

Banyak negara termasuk Amerika Serikat, Kanada dan Norwegia menjalankan proyek Penangkapan dan Penyimpanan Karbon. Namun, tak seperti yang dibayangkan, proyek ini tak membuahkan hasil signifikan dalam menurunkan emisi karbon.

Dalam praktiknya, Penangkapan dan Penyimpanan Karbon justru dipandang sebagai solusi palsu kebijakan transisi energi. Mengutip Food and Water Watch, berikut ini lima alasannya.

  1. Kegagalan yang Mahal

Setelah investasi publik dan swasta bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade, tidak ada kisah sukses dalam penangkapan karbon. Salah satu yang terbesar adalah pembangkit listrik tenaga batu bara Petra Nova di Texas, yang pernah menjadi contoh utama. Pabrik tersebut secara konsisten berkinerja buruk, sebelum akhirnya ditutup permanen.

Antara tahun 2005 dan 2012, Departemen Energi AS menghabiskan US$6,9 miliar untuk menunjukkan kelayakan CCS untuk batu bara. Namun, hanya sedikit hasil dari investasi ini.

  1. Boros Eenergi

Menjalankan sistem penangkapan karbon sangatlah boros energi. Hal ini pada dasarnya memerlukan pembangunan pembangkit listrik baru untuk menjalankan sistem, sehingga menciptakan sumber polusi udara dan karbon lainnya. Hal ini jelas-jelas melemahkan seluruh tujuan.

AS mengeluarkan sekitar 5 miliar ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya. Menghilangkan 1 miliar ton limbah tersebut melalui penangkapan udara langsung akan membutuhkan hampir seluruh keluaran listrik AS.

  1. Meningkatkan Emisi

Karena besarnya jumlah energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan penangkapan karbon, ditambah dengan siklus hidup bahan bakar fosil, penangkapan karbon di AS sebenarnya menghasilkan lebih banyak CO2 ke atmosfer dibandingkan yang dihilangkan.

Itu bukan suatu kebetulan. Proyek penangkapan yang “berhasil” hanya terjadi pada fasilitas di mana karbon disuntikkan ke dalam sumur yang ada untuk mengekstraksi lebih banyak minyak. Meskipun seorang CEO perusahaan minyak berpendapat, menggandakan penggunaan bahan bakar fosil adalah solusi iklim, dunia berpendapat lain.

  1. Risiko Bencana

Ada juga risiko signifikan lainnya terkait pembuangan dan penyimpanan karbon. Misalnya, kegagalan sumur saat injeksi atau ledakan dapat mengakibatkan pelepasan CO2 dalam jumlah besar. CO2 bisa bocor karena sering kali terletak di dekat reservoir bahan bakar fosil. Di sana, lubang sumur minyak dan gas menyediakan jalur bagi CO2 untuk keluar ke permukaan. Kebocoran penyimpanan tersebut dapat mencemari air tanah dan tanah. Selain itu, suntikan CO2 dapat menyebabkan gempa bumi, yang telah diukur di lokasi penyuntikan.