Berita

Aktivis Mahasiswa Semarang Pertanyakan Kasus HAM: Diskusi What Is Change yang Digelar Pejuang Perubahan

Lukni Maulana
×

Aktivis Mahasiswa Semarang Pertanyakan Kasus HAM: Diskusi What Is Change yang Digelar Pejuang Perubahan

Sebarkan artikel ini
What Is Change
Pejuang Perubahan dan Aktivis Mahasiswa di lingkungan UIN Walisongo gelar Talking About dengan tema What Is Change di Kopu Nuri Ngaliyan, Kota Semarang

BARISAN.CO – Pejuang Perubahan simpul relawan Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANies) Jawa tengah gelar diskusi bersama aktivis mahasiswa di lingkungan UIN Walisongo. Aktivis mahasiswa mempertanyakan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang melibatkan Prabowo Subianto.

Gelaran diskusi dengan bertajuk Talking About dengan tema What Is Change dikemas seperti kampanye Paslon nomor urut 1 Anies Baswedan dalam “Desak Anies”. Bertempat di Kopi Nuri Ngaliyan, Kota Semarang menghadirkan Juru Bicara TIMNAS AMIN, Reiza Patters, Senin (22/1/2024) malam.

Meski bertempat di kedai kopi, namun tidak hanya diwarnai aroma kopi yang khas, tetapi juga oleh semangat diskusi yang hangat tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Sejumlah aktivis mahasiswa yang peduli dengan isu-isu kemanusiaan menggelar kegiatan diskusi untuk membahas tantangan dan langkah-langkah dalam memperjuangkan HAM di Indonesia. Terlebih lagi pasangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar mengusung jargon “Perubahan.”

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah mahasiswa di lingkungan UIN Walisongo dan juga beberapa aktivis tampak terlihat.

Para aktivis dan mahasiswa dengan bendera Pejuang Perubahan ini menciptakan ruang terbuka bagi pemahaman mendalam tentang HAM.

Diskusi yang diinisiasi oleh Pejuang Perubahan dan mahasiswa ini sebagai upaya untuk melibatkan generasi muda dalam refleksi kritis terhadap perkembangan HAM di tanah air.

Pemilihan kedai kopi sebagai tempat penyelenggaraan diskusi bukanlah kebetulan, sebelumnya pada edisi pertama juga berlangsung di kedai kopi di Noms Kopi di kecamatan Genuk, Kota Semarang.

Sebab kedai kopi memberikan atmosfer yang santai dan informal, menciptakan suasana yang lebih akrab dan mendekatkan peserta diskusi satu sama lain. Hal ini menciptakan platform yang lebih terbuka dan menyenangkan bagi mahasiswa untuk berbagi pandangan dan pengalaman.

Presidium Dewan Pimpinan Pusat ANies, Sapto Widodo mengatakan perubahan merupakan hal yang sangat tidak mungkin dihindari selagi kita hidup sebagai manusia.

“Dalam konteks apapun dan dimanapun, tak terkecuali sebagai mahasiswa yang konon katanya sebagai agent of change,” sambungnya.

Lebih lanjut, Sapto mengatakan terlebih lagi konteks Perubahan dalam kasus-kasus Hak Asasi Manusia yang terjadi di Indonesia.

“Diskusi juga mencakup tantangan-tantangan yang dihadapi dalam memperjuangkan HAM di Indonesia, seperti hambatan hukum dan resistensi politik,” jelas Koordinator Pejuang Perubahan ini.

Salah satu mahasiswa dalam dikusi tersebut mempertanyakan penyelesaian kasus HAM yang sudah tujuh belas tahun belum terselesaikan. Bahkan sudah lima kali berganti kekuasaan sampai sekarang belum terselesaikan.

Dalam term pemilu 2024 saat ini, mahasiswa tersebut tidak mempermasalahkan siapa yang jadi, mau nomor urut, 1, 2 maupun 3.

“Sebetulnya pengadilan HAM itu sudah ada tapi tidak pernah dilaksanakan. Tuntutan-tuntutan selalu dibatalkan di tingkat kejaksaan,” jawab Reiza Patters.

Salah satu fokus diskusi What Is Change adalah kasus Hak Asasi Manusia yang melibatkan Prabowo Subianto.

Para aktivis dengan tegas mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap situasi ini dan mendorong partisipan untuk merenungkan dampaknya terhadap hak asasi manusia secara umum. Diskusi mendalam mencakup aspek-aspek kontroversial yang muncul seiring dengan perkembangan kasus tersebut.