Ekonomi

Analisa Kinerja BPRS: Pertumbuhan Pembiayaan lebih Tumbuh namun Kekurangan Likuiditas

Beta Wijaya
×

Analisa Kinerja BPRS: Pertumbuhan Pembiayaan lebih Tumbuh namun Kekurangan Likuiditas

Sebarkan artikel ini

BPRS juga memberikan dukungan untuk pengembangan bisnis UMKM.

BARISAN.CO -`Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) merupakan entitas keuangan yang memberikan layanan keuangan berbasis syariah kepada masyaraka`t. BPRS memiliki beberapa produk dan layanan yang berbeda dari bank konvensional, seperti tabungan syariah, pembiayaan syariah, dan kartu debit syariah.

Produk-produk dan layanan yang ditawarkan oleh BPRS inilah yang seharusnya mampu membantu masyarakat dalam mengakses keuangan secara mudah dan murah. Dalam hal ini, BPRS seharusnya mampu meningkatkan inklusi keuangan di masyarakat dan membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi di daerah-daerah.

Selain itu, BPRS juga memberikan dukungan untuk pengembangan bisnis UMKM. UMKM seringkali mengalami kesulitan dalam mengakses pembiayaan dari bank konvensional. Melalui BPRS, UMKM dapat mendapatkan pembiayaan yang dibutuhkan untuk melakukan ekspansi bisnis mereka. Hal ini seharusnya mampu membantu meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam dunia bisnis di daerah-daerah.

BPRS dapat juga membantu memperkuat pengawasan keuangan dengan pembiayaan yang transparan dan berbasis syariah. Proses pengawasan keuangan dapat meminimalisir transaksi yang merugikan nasabah. Pembiayaan yang transparan dapat menjadi jaminan bahwa tidak ada transaksi yang merugikan nasabah. Hal inilah yang seharusnya membuat masyarakat lebih percaya dan yakin terhadap BPRS.

Dalam kesimpulan, BPRS memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga stabilitas perekonomian di daerah-daerah, mengembangkan bisnis UMKM, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Harapannya, BPRS dapat terus berinovasi dan memberikan layanan yang lebih baik untuk meningkatkan kebermanfaatan mereka bagi masyarakat luas.

Analisa Kinerja BPRS, Likuiditas Kurang dan NPL alami trend Penurunan

Analisis Kinerja BPRS menunjukkan bahwa penyaluran kredit maksimal, tetapi likuiditas Dana Pihak Ketiga kurang seimbang. Pertumbuhan pembiayaan BPRS mencapai 20.46% YoY, unggul dibandingkan pertumbuhan pembiayaan BPR. Jumlah penyaluran pada Agustus 2022 mencapai 16,286 miliar, sementara pertumbuhan pendanaan BPRS mencapai 14.75% YoY, dengan nominal 1,828 miliar.

Meskipun penghimpunan dana dan penyaluran kredit mengalami pertumbuhan yang ekspansif, rasio Finance to Deposit Ratio (FDR) sebesar 114.52% menunjukkan bahwa BPRS menghadapi kekurangan pasokan dana.

Dari segi rasio kredit macet (NPF), BPRS berhasil menurunkan tren selama lebih dari lima tahun terakhir. Pada Desember 2018, NPF sebesar 9.30%, Desember 2019 sebesar 7.04%, Desember 2020 sebesar 7.24%, dan Desember 2021 sebesar 6.95%.

Sebagai informasi, Rasio NPF yang terjaga kendalinya adalah rasio di bawah nilai 5% sehingga BPRS harus terus memperbaiki kualitas kredit macet.

Meskipun terdapat sedikit peningkatan kualitas pada pertumbuhan kredit macet secara tahunan, dari 7.10% pada Agustus 2022 menjadi 7.58% pada Agustus 2023 (kenaikan sebesar 48 basis poin). Dan, lebih rendah dari kenaikan kredit macet BPR, dari Agustus 2022 7.98% serta Agustus 2023 sebesar 10.13%, sehingga BPR alami kenaikan 215 basis poin.

Analisis komprehensif terhadap BPRS menunjukkan perlunya evaluasi mendalam untuk menilai kedua institusi sebagai referensi instrumen keuangan. Penting untuk tidak menyamaratakan pandangan analisis terhadap BPRS, karena setiap lembaga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam pengelolaannya. Dalam hal kredit macet atau keseimbangan likuiditas, diperlukan manajemen risiko yang lebih kuat dari kedua lembaga ini. [Yat]