Kolom

Angka dan Tuhan

Maria A. Alcaff
×

Angka dan Tuhan

Sebarkan artikel ini
Angka dan Tuhan
Ilustrasi foto: Pexels.com/https://barisan.co/

Bahkan perbandingan antara panjang wajah berbanding lebar wajah adalah 0,618. Inilah keajaiban Fibonacci.
Sila kita praktikkan masing-masing. Angka inilah yang disebut sebagai “Golden Ratio” atau rasio emas.

Lalu benarkah Kabah pusat manusia? Atau pusat bumi?
Istilah Ka’bah adalah bahasa Al Quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah.
Al Quran surah Al Ma’idah ayat 6 menjelaskan istilah itu dengan “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan di surah Al Maidah ayat 95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yang artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi.

Dengan segala kedhoifan penulis, penulis menganggap bahwa “mata bumi” yang dimaksud adalah bagaikan titik mata dari suatu area/wilayah/bentangan. Titik mata KBBI adalah: (1) titik yang menjadi pusat segenap penglihatan (pd gambar pemandangan);
(2) sesuatu yang menarik perhatian orang banyak; pusat perhatian (minat).

Itu lah sebabnya Kabah menjadi “kiblat” sholat bagi seluruh umat Islam di dunia.

Beberapa fakta unik tentang Kabah sebagai berikut,

  1. Bahwa di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan ada suatu area yang bernama “Zero Magnetism Area”, artinya apabila seseorang menggunakan kompas di area tersebut, maka jarum kompas itu tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besar antara kedua kutub.
  2. Planet bumi mengeluarkan sejenis radiasi yang kemudian diketahui sebagai “Medan Magnet”. Penemuan ini sempat mengejutkan National Aeronautics and Dpace Administration (NASA) atau Badan Antariksa Amerika Serikat. Temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet, namun setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan tersebut raib dari dunia maya.
    Meski begitu, keberadaan radiasi itu tetap diteliti yang akhirnya diketahui bahwa radiasi tersebut berpusat di kota Mekkah, tempat di mana Kabah berada. Dan yang lebih mengejutkan adalah radiasi itu ternyata bersifat “infinite” (tak berujung), terbukti ketika para astronot mengambil foto Planet Mars, radiasi kota Mekkah tersebut masih terlihat. Para peneliti muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Kabah di planet bumi dengan Kabah di alam akhirat.
  3. Tekanan Gravitasi yang tinggi di area Kabah dan sekitarnya, menyebabkan satelit, frekuensi radio atau pun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui “isi di dalam” Kabah.
    Tekanan Gravitasi yang tinggi ini juga menyebabkan kadar garam dan aliran tinggi. Hal ini lah yang menjadikan sholat di Masjidil Haram tidak terasa panas meski tanpa atap di atasnya.
  4. Sebagai kiblat sholat umat Islam sedunia, maka Kabah memancarkan “energi positif” dan menjadi pusat gerakan sholat sepanjang waktu, karena waktu sholat mengikuti pergerakan matahari.
  5. Konon pembangunan Kabah telah dilakukan sejak Nabi Adam a.s. Ada pula sumber menyebutkan bahwa Kabah telah dibangun sejak 2.000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan ke bumi, dengan proses pembangunan yang memerlukan waktu panjang dari masa ke masa.

Kembali ke Golden Ratio pada angka Fibonacci, rasio emas ini kerap digunakan untuk menghitung antara lain,

  • Persesuaian komposisi tubuh manusia (sekilas sudah penulis ulas di atas),
  • Cocok dengan proporsi alam,
  • Kiblat arsitektur dan seni,
  • Merumuskan pusat dunia,

Maka ini akan menguatkan penjelasan-penjelasan di atas. Jika kita mengukur jarak Kota Makkah ke arah Kutub Utara, diperoleh angka 7631.68 km, sedangkan jika ke arah Kutub Selatan, diperoleh angka 12348.32 km. Apabila kedua angka tersebut kita diperbandingkan, maka 12238.32:7631.68 = 0,618!. Fakta juga menunjukan bahwa proporsi jarak Timur.

Barat Mekah adalah 1,618.
Serta proporsi jarak dari Mekah ke garis titik balik matahari dari sisi barat dan perimeter garis lintang dunia pada saat itu juga mengejutkan sama dengan golden ratio yaitu 1,618.

Kesimpulan bahwa sebuah “mata bumi” benar adanya menjadi “titik mata” atau pusat dunia. Pertanyaannya adalah, mengapa Kabah?

Kita tak kan menemukan jawaban lain selain Al Quran surah Al Maidah ayat 97, “Allah telah menjadikan Kabah, rumah suci itu sebagai pusat manusia”.

Tertulis “Allah telah menjadikan,” maka Kabah yang kita kupas dengan berbagai informasi dan temuan, serta mencocokkan dengan keajaiban angka-angka, adalah “sebuah karya cipta”.

Lalu siapa yang menjadikan “mahakarya cipta” ini? Alam kah? Bukankah bumi atau Mekkah adalah bagian dari alam itu?

Karena sebagai ciptaan manusia, pasti bukan! Bukankah Nabi Adam diturunkan dari Surga ke bumi yang semula terpisah dari Hawa, akhirnya dipertemukan di Padang Arafah, tepatnya di Jabbal Rahmah (Bukit/Tugu Kasih Sayang) yang letaknya antara Mekkah dan Thaif. Maka jelas Kabah lebih dulu ada dari pada Adam dan Hawa.

Penulis mengambil pokok bahasan Kabah bukan semata karena saat ini musim haji, atau karena terdapat begitu banyak informasi tentang hubungan antara angka Fibonacci dengan Kabah.

Melainkan karena “rumah suci” itu adalah tempat umat Islam menjadi tamu. Bukan sembarang tamu, tapi tamu yang rindu ingin kembali lagi berkunjung.

Sekali kita bertamu, maka “Gravitasi Tinggi” itu bukan lagi soal angka, bukan lagi soal perbandingan jarak, bukan lagi letaknya yang di tengah-tengah dunia, bukan lagi soal pertemuan utara-selatan dan barat-timur. Melainkan “suatu area yang Zero Magnetism” bisa begitu kuat menarik rasa rindu dengan begitu dahsyat.