Opini

Anies Unggul dalam Gagasan Soft Power Diplomacy

Yayat R Cipasang
×

Anies Unggul dalam Gagasan Soft Power Diplomacy

Sebarkan artikel ini

Bagi capres yang suka ‘barang bekas’ isu seperti yang diwacanakan Anies jauh dari gagasannya.

SEPERTI banyak diprediksi sejumlah kalangan analis politik independen, debat ketiga calon presiden bakal diungguli Anies Baswedan. Dan benar saja seperti layaknya timnas sepakbola, Anies di babak awal langsung menyerang dengan gaya total football.

Akibatnya capres nomor urut 02 Prabowo Subianto kewalahan dan langsung ‘kena mental’ sampai akhir debat. Sampai-sampai Prabowo pun ngibrit dan enggan bersalaman dengan Anies setelah debat usai.

Anies menyerang Prabowo soal kinerja Kemenhan yang buruk dari soal penyerapan anggaran Rp700 triliun yang tidak mangkus dan sangkil, soal duit APBN yang dibelikan alutsista bekas dan food estate singkong yang melibatkan kroni kemudian gagal dan merusak lingkungan terutama lahan gambut.

Pun, soal etika Anies kembali menggugatnya. Anies kembali menyebut pemimpin harus beretika namun itu tidak diperlihatkan oleh Prabowo dengan melibatkan cawapresnya yang melanggar etika.

Soal etika ini rupanya yang memancing Prabowo emosinya memuncak. Sampai dia menghardik dan menyebut Anies tidak pantas bicara etika. Anies juga disebut sebagai capres ambisius dan yang lebih parah Anies dituding sebagai penghasut! Tuduhan yang luar biasa dan serius.

Anies, dihardik bukan malah kendor. Sepanjang debat justru membuat Prabowo tidak nyaman. Tidak ada kesempatan bagi Prabowo untuk bisa menarik napas.

Bahkan Anies memancing capres nomor urut 03 Ganjar Pranowo untuk sama-sama ‘mengeroyok’ capres nomor 02 dengan memintanya untuk memberikan penilaian kinerja atas Kemenhan yang dipimpin Prabowo. Dengan lugas Ganjar pun memberikan nilai 5 seperti halnya ketika Ganjar memberikan nilai yang sama untuk kinerja penegakan hukum di Indonesia.

Tak mau sendirian Ganjar pun sebaliknya meminta Anies juga memberikan penilaian yang sama untuk Kemenhan. Anies pun menyebut di bawah lima.

“Berapa skor yang Bapak berikan atas kinerja Kemenhan yang dipimpin Pak Prabowo?” tanya Anies.

“Lima juga,” jawab Ganjar, lugas. Hadirin di Istora Senayan tertawa.

“… karena itu menurut saya justru skornya di bawah lima. Kalau lima itu ketinggian Mas Ganjar.”

“Mas Anies nggak harus takut. Disebut saja berapa. Kayak saya gitu lo. Jangan di bawah lima sebut saja angkanya,” kejar Ganjar.

“Sebelas Mas, dari 100,” kata Anies yang disambut tawa penonton di Istora Senayan.

Pusat Kebudayaan Indonesia dan Kuliner

Debat terkait pertahanan keamanan, geopolitik dan globalisasi lebih banyak didominasi soal isu kekuatan militer Indonesia. Namun, Anies justru memberikan warna dengan menyebut bahwa pertahanan dan keamanan itu justru harus dimulai dari keluarga. Anies justru mengkhawatirkan serbuan narkoba dan pinjaman online yang merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Menariknya ada pertanyaan dari panelis yang meminta pandangan Anies terkait diplomasi budaya di kancah global. Tentu saja isu ini sudah menjadi visi dan misi Anies dan sebelumnya juga telah dipaparkan dalam sebuah forum yang melibatkan duta besar asing di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Anies misalnya menuturkan, Indonesia bisa mencontoh Thailand dan Vietnam sebagai sesama Asia Tenggara. Justru kedua negara ini lebih maju dalam soal diplomasi budaya seperti kuliner dan bumbu di tingkat global.