Berita

Atasi Polusi Udara di Indonesia, Begini Solusi Anies

Anatasia Wahyudi
×

Atasi Polusi Udara di Indonesia, Begini Solusi Anies

Sebarkan artikel ini

Indonesia menjadi negara paling berpolusi urutan ke-26 setelah China menurut data IQAir di tahun 2022.

BARISAN.CO – Polusi udara telah menjadi salah satu penyebab utama kematian terbesar di dunia. Studi Lancet tahun lalu menemukan, polusi udara masih bertanggung jawab atas sekitar 9 juta kematian per tahun atau setara dengan satu dari enam kematian di seluruh dunia.

Meski ada upaya yang dilakukan dunia untuk mengatasinya, namun studi itu menyebut, hanya sedikit kemajuan nyata yang dapat diidentifikasi dalam upaya melawan polusi. Khususnya di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, di mana tingkat polusi paling parah.

Sementara, di tahun yang sama, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, 99 persen populasi global menghirup udara yang tidak memenuhi standar.

Laporan OECD 2016 telah memperkirakan, kerugian ekonomi dari polusi udara di tahun 2060 sebesar US$330/orang. Ini terjadi karena biaya perawatan kesehatanan tahunan terkait polusi udara meningkat dari US$21 miliar di tahun 2015 menjadi US$176 pada 2060 mendatang. Sedangkan, jumlah hari kerja yang hilang karena penyakit yang berhubungan dengan polusi udara turut melonjak dari 12, miliar menjadi 3,7 miliar.

Sehingga, tanpa adanya kebijakan yang ambisius dari pemerintah, maka jutaan nyawa akan terancam dan perekonomian akan jauh lebih memburuk.

Sedangkan, Indonesia menjadi negara paling berpolusi urutan ke-26 setelah China menurut IQAir di tahun 2022. Khusus di Jakarta, per 26 November 2023 pkl 06.02 WIB, IQAIR mengungkapkan, sudah ada 13.000 kematian dan kerugiannya mencapai US$3.300.000.000 pada tahun 2023 ini.

Sebagai calon presiden 2024, Anies Baswedan telah menyiapkan empat solusi untuk atasi polusi udara di Indonesia. Pertama, setiap daerah, kata Anies harus memiliki alat ukur kualitas udara di Jakarta.

Anies kemudian mengambil contoh contoh kasus Covid-19 yang terbanyak berada di Jakarta. Menurutnya, bukan karena daerah lain tidak ada kasus, tetapi karena Jakarta memiliki alat testing Covid-19 yang mumpuni.

Alat ukur kualitas udara ini memang penting terutama untuk melindungi kesehatan masyarakat. Anies melanjutkan, solusi kedua adalah dengan cara menyeriusi proses transisi energi dari pembangkit listrik batu bara menjadi energi terbarukan.

“Tapi prosesnya panjang tidak bisa mendadak,” kata Anies seperti dikutip dari Kompas.com.

Solusi selanjutnya, dengan menggunakan penggunaan fasilitas kendaraan yang berbasis listrik khususnya kendaraan umum. Keempat, memperbanyak taman kota sebagai paru-paru kota di semua wilayah perkotaan.

Dua dari empat solusi terakhir untuk atasi polusi udara sebenarnya telah dikerjakannya saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Pada April 2022, Anies meluncurkan 30 bus listrik guna memperbaiki kualitas udara.

Kemudian, selama lima tahun kepemimpinannya, Anies telah membangun dan merenovasi lebih dari 400 lebih taman di Jakarta. [Yat]