Berita

Awas! Fenomena El Nino Tingkatkan Potensi Demam Berdarah

Anatasia Wahyudi
×

Awas! Fenomena El Nino Tingkatkan Potensi Demam Berdarah

Sebarkan artikel ini
demam berdarah
Ilustrasi: alodokter.com.

Dari Januari-Mei 2023, jumlah kasus demam berdarah telah mencapai 35.694 kasus.

BARISAN.CO – Demam berdarah adalah infeksi virus yang menyebar melalui gigitan nyamuk jenis aedes aegypti. Umumnya, negara tropis dan subtropis termasuk Asia Selatan dan Asia Tenggara memiliki jumlah kasus tinggi.

Dalam 22 pekan tahun 2023, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat setidaknya terdapat 35.694 kasus demam berdarah dengue (DBD) di seluruh Indonesia.

Provinsi dengan jumlah kasus DBD terbanyak selama Januari-Mei 2023 adalah Jawa Barat dengan 6.398 kasus. Posisi kedua adalah Bali (3.678 kasus), Jawa Tengah (3.068 kasus), dan Jawa Timur (2.551 kasus).

Pada periode sama, Kemenkes juga menemukan terdapat 270 kasus kematian akibat DBD. Kasus kematian paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, dan Kalimantan Timur.

Diperparah El Nino

Sementara, Kemenkes menyebut, tahun ini kasusnya berpotensi meningkat karena fenomena cuaca El-Nino. Frekuensi gigitannya bisa 3-5 kali lipat saat suhu udara meningkat.

Saat planet ini menghangat, penyakit yang dulunya terbatas pada daerah tropis sekarang menyebar ke seluruh dunia. Dengue adalah infeksi virus yang menyebabkan penyakit seperti flu parah dan bisa mematikan.

Insiden demam berdarah telah meningkat 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Saat ini, hingga 100 juta infeksi diperkirakan terjadi setiap tahun di lebih dari 100 negara endemik, yang menempatkan hampir setengah dari populasi dunia dalam risiko.

Selain pengaruh iklim, studi Brigham Young University mengungkapkan, strategi pencegahan berpengaruh pada kelangsungan demam berdarah. Faktor ekonomi di banyak negara misalnya, jadi faktor penghambat.

Dari studi itu terungkap, teknik pencegahan umum di negara-negara dengan tingkat demam berdarah dengan menggunakan insektisida. Meski pun terbukti efektif mengurangi untuk sementara waktu, penggunaan yang berlebihan justru dapat menyebabkan masalah resistensi yang lebih besar bagi nyamuk.

Ketika nyamuk sering terpapar, mereka akan berevolusi dan beradaptasi melawan insektisida. Di Indonesia, satu insektisida yang digunakan untuk pengobatan demam berdarah ternyata hanya dapat mampu menyebabkan kematian 0-1,33 persen pada nyamuk aedes aegypti. Ini menunjukkan, nyamuk tersebut telah menjadi resisten terhadap insektisida. Begitu juga dengan di Malaysia, 75 persen nyamuk aedes aegypti resisten terhadap satu jenis insektisida.

Ini berarti, negara-negara yang telah lama memberantas penyakit dari nyamuk perlu menerapkan tindakan segera untuk mengekang penyebaran nyamuk. 

Pemerintah tampaknya perlu mencari cara lain untuk mengendalikan nyamuk jenis ini. Selain itu, vaksin untuk mencegah infeksi menjadi semakin mendesak. [dmr]