Ekonomi

Bank Syariah Tunjukkan Daya Tahan Kuat Saat dan Setelah Pandemi, Ini Datanya

Beta Wijaya
×

Bank Syariah Tunjukkan Daya Tahan Kuat Saat dan Setelah Pandemi, Ini Datanya

Sebarkan artikel ini

Pandemi COVID-19 telah menjadi ujian besar bagi berbagai sektor ekonomi, termasuk perbankan. Namun, perbankan syariah telah menunjukkan daya tahan yang mengesankan selama masa pandemi dan terus tumbuh, bahkan setelahnya.

BARISAN.CO – Salah satu indikator penting dalam mengukur daya tahan bank adalah rasio kredit macet. Selama masa pandemi, banyak sektor ekonomi mengalami ketidakpastian, dan beberapa pelanggan bank mungkin mengalami kesulitan dalam melunasi pinjaman mereka.

Meskipun demikian, bank syariah terbukti memiliki manajemen risiko yang cermat dan portofolio kredit yang berkualitas. Ini tercermin dalam fakta bahwa rasio kredit macet bank syariah terus turun selama pandemi, menunjukkan kemampuan mereka untuk mengatasi tantangan ekonomi yang sulit.

Selain itu, rasio profitabilitas juga menjadi indikator utama dalam mengukur kesehatan keuangan bank. Dua indikator utama profitabilitas adalah Net Operating Margin (NOM) dan Return On Asset (ROA). Bank syariah telah berhasil mempertahankan dan bahkan meningkatkan kedua indikator ini selama dan setelah pandemi.

Prinsip-prinsip syariah yang menghindari risiko yang tidak etis dan manajemen risiko yang ketat telah membantu bank syariah menghindari eksposur terhadap aset-aset berisiko tinggi. Kolaborasi dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti regulator dan masyarakat, juga telah meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah.

Secara keseluruhan, daya tahan bank syariah selama dan setelah pandemi mencerminkan prinsip-prinsip yang kuat, manajemen risiko yang baik, dan komitmen terhadap efisiensi dan profitabilitas. Bank syariah telah membuktikan diri sebagai mitra andal dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Analisis Kinerja Bank Syariah Terus Tumbuh Cemerlang

Kredit Macet Menurun: NPF (Non-Performing Finance) atau kredit macet yang tren penurunannya menjadi salah satu indikator yang menunjukkan daya tahan bank syariah yang kuat selama masa pandemi dan pasca pandemi. NPF adalah persentase dari total pinjaman yang tidak dapat dibayarkan oleh peminjam dan merupakan salah satu tantangan utama dalam sektor perbankan.

Selama pandemi, ketidakpastian ekonomi meningkat, dan banyak bisnis dan individu menghadapi kesulitan keuangan. Namun, bank syariah telah berhasil mengelola risiko kredit mereka dengan baik, menjalankan proses pemantauan kredit yang ketat, dan memberikan bantuan kepada nasabah yang memerlukan restrukturisasi pinjaman. Hasilnya adalah penurunan yang signifikan dalam NPF bank syariah.

Pada Juni 2023, NPF bank syariah sebesar 2.36%, turun dari bulan Juni 2022, di mana NPF mencapai 2.63%. Ini menunjukkan penurunan rasio NPF sebesar 27 BPS. Penurunan NPF juga terjadi selama pandemi dari 2020 sampai 2022, turun dari 3.13% pada tahun 2020 menjadi 2.35% pada tahun 2022.

Peningkatan Net Operating Margin (NOM): NOM merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam memanajemen aktiva produktifnya untuk menghasilkan penghasilan netto yang lebih tinggi. Pada 2023, bank syariah melaporkan kinerja baik dengan rasio NOM sebesar 2.77% pada bulan Juni. Meningkat dibandingkan dengan 2.60% pada Juni 2022, naik 17 BPS year on year.
Selama pandemi, rasio NOM bank syariah menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pada 2020, rasio ini sebesar 1.46% dan meningkat menjadi 1.66% pada tahun 2021. Terus berkembang, pada tahun 2022, rasio NOM mencapai 2.59%.

Meningkatnya Return On Asset (ROA): ROA mengukur efektivitas bank dalam menghasilkan laba dari aset yang tercapai. Pada Juni 2022, ROA bank syariah mencapai 2.04%, naik 4 BPS dibandingkan tahun sebelumnya, ROA tercatat sebesar 2.08% pada Juni 2023. ROA bank syariah terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan selama masa pandemi. [Yat]