Kontemplasi

Belajar dari Hazleton

Ardi Kafha
×

Belajar dari Hazleton

Sebarkan artikel ini
Lesley Hazleton
Ilustrasi foto: Lesley Hazleton/blog.ted.com

Dia menemu kedamaian untuk bebas berpikir dalam keheningan, bertemankan desau angin di sela bebatuan gua. Benaknya berpikir dan merenung soal desas-desus kehidupan Makkah dengan segala perselisihan memperebutkan uang dan kekuasaan.

Nah, Lesley Hazleton mengajak kita berpikir bahwa Muhammad sebetulnya telah menjadi laki-laki nyaman di samping Khadijah. Tetapi kenapa memilih ke Gua Hira? Jadi, apa yang dia lakukan sendirian di atas salah satu pegunungan itu? Mengapa seorang lelaki yang bahagia dengan pernikahannya malah mengisolasi dirinya sendiri dengan merenung sepanjang malam?  

Mengapa rasa puas saja tidaklah cukup? Apakah kenyataan bahwa rasa itu diraihnya dengan usaha yang begitu gigih membuatnya tak bisa menerima perasaan itu begitu saja? Membuatnya tak pernah tenteram akan haknya atas rasa itu? Lantas apa yang membuatnya tenang? Apa yang sedang dia cari?

Hazleton pun kemudian mendedah sejenis kedamaian yang Muhammad cari dalam larik-larik bukunya, Muslim Pertama, yang menggiring saya untuk memeriksa kembali kitab-kitab sirah lain yang ada di rak pustaka saya. Artinya, saya tergoda membandingkan tafsir sejarah nabi yang disajikan para penulis sirah, usai menyuntuki Hazleton.

Namun satu hal yang pasti, belajar dari Hazleton: Muhammad sungguh tidak siap menghadapi kebesaran sesuatu yang akan dia alami tepat pada malam itu, lailatul qadr pada 610.