Opini

Bodoh, Tolol dan Impor

Yayat R Cipasang
×

Bodoh, Tolol dan Impor

Sebarkan artikel ini

Yang doyan impor bukan hanya dinas, pemerintah daerah, BUMN tetapi juga diakui ada andil kementerian dan Pemerintah Pusat. Atau mungkin juga Presiden.

SETIDAKNYA ada dua pernyataan Presiden Jokowi yang menggunakan diksi ‘bodoh’ dalam pidatonya. Keduanya di hadapan aparatur Pemerintah dan isunya sama terkait kementerian dan lembaga sampai ke pemerintah daerah yang ‘doyan’ membelanjakan duit ABPN dan APBD untuk barang impor.

Dalam kamus daring Kemendikbud disebutkan ‘bodoh’ merujuk kepada seseorang yang setelah diberi tahu tetap tidak mengerti. Nah, orang yang bodohnya parah disebut tolol atau bebal.

Bila sudah dua kali disebut bodoh, sebenarnya bila merujuk kamus maka sudah dapat dikatakan tolol atau bebal. Sudah diberi tahu dan diingatkan berkali-kali masih saja impor.

Namun yang menarik dikutip dari CNBC Indonesia daring, Presiden Jokowi tidak menuding lembaga atau pemerintah daerah tertentu (kata ganti orang kedua). Tetapi Jokowi memilih menggunakan kata ganti orang pertama jamak (kita).

Pernyataan keras Jokowi itu menunjukkan kegeramannya karena banyak instansi pemerintah hingga BUMN yang masih banyak belanja produk ke luar negeri atau barang impor. Di sisi lain, Pemerintah ngumpulin duit susah payah dari pajak dan berbagai pungutan resmi lainnya.

“Bodoh sekali kita, hati-hati ini saya sampaikan pada semua dinas, kalau kita kumpulkan pendapatan itu sulit sekali, income daerah, negara sulit sekali kemudian belanjanya barang impor,” kata Jokowi saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Korpri 2023 di Jakarta, Senin (3/10/2023).

Menarik kenapa Presiden Jokowi tidak menggunakan Anda atau menuding lembaga dan pemerintah daerah tertentu sebagai institusi yang gemar belanja barang impor. Justru Jokowi menggunakan diksi “kita”.

Ini artinya, yang doyan impor bukan hanya dinas, pemerintah daerah, BUMN tetapi juga diakui ada andil kementerian dan Pemerintah Pusat. Atau mungkin juga Presiden.

Presiden menggunakan kata “kita” menunjukkan sebagai sikap jujur Jokowi mengakui kebiasaan impor adalah juga ada andil dirinya sebagai pejabat publik bukan atasnama pribadi. Ini artinya ketika Jokowi tengah mengkritik pemerintah daerah dan BUMN yang doyan impor sekaligus juga mengkritik dirinya sendiri. Atau mungkin ‘menyalahkan’ dirinya sendiri.

Presiden Jokowi sangat tepat menggunakan “kita” karena memang beberapa kali Jokowi juga berjanji tidak akan impor atau menekan impor barang atau komoditas tertentu termasuk beras. Namun kenyataannya justru Jokowi yang terbaru mendukung impor beras dari China. Entah karena memang cadangan yang menipis atau memang Bulog tidak bisa menyerap beras petani atau memang sawah di Indonesia yang sudah terdegradasi menjadi kompleks perumahan. Atau jangan-jangan memang ada yang doyan impor sebagai bagian dari kelompok pemburu rente? Entahlah.

Bagi rakyat sudah cukup, Presiden Jokowi mengkritik dirinya sendiri dengan menyebut “kita”. Itu sudah pengakuan yang paling jujur. Presiden tidak menyalahkan sepenuhnya kepada orang atau pihak lain. Salut.

Dan mungkin hanya di Indonesia Presiden kritik Presiden. Mungkin alasan ini juga yang menyebabkan Presiden Jokowi tidak mengadukan Rocky Gerung ke polisi. Karena yang dikritik Rocky Gerung adalah kebijakan bukan pribadi.

Toh, Presiden Jokowi juga sudah mengkonfirmasi yang doyan impor adalah KITA!