Kontemplasi

Cegah Penyakit Ain, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Perisai Mata

Lukni Maulana
×

Cegah Penyakit Ain, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: Perisai Mata

Sebarkan artikel ini
penyakit ain
Ilustrasi foto: Pexels.com/Faisal Rahman

“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.” (HR. Muslim).

BARISAN.CO – Ternyata sakit mata bukan berhubungan dengan fisik itu sendiri, akan tetapi juga berhubungan dengan keimanan seorang. Di dalam agama Islam penyakit ini disebut dengan penyakit ain.

Adapun arti penyakit ain adalah gangguan yang ditimbulkan akibta pandangan mata, lalu turun ke hati yang dapat menyebabkan iri dan dengki. Jadi secara psikologis penyakit jenis ini termasuk efek ruhiyah manusia atau batin.

Penyakit batin ini efeknya tidak hanya pada diri sendiri tetapi dapat memberikan permasalahan kepada orang lain. Sebab ketika seseorang mengidap penyakit ini maka ia bisa saja melakukan yang tidak baik kepada orang lain.

Misalnya ketika seseorang melihat tetangganya memiliki rumah dan mobil mewah, lalu dari penglihatan yang nampak ini ia menjadi iri dan dengki kepada tetanganya. Perasaan inilah yang dapat menyebabkan hubungan bertetangga menjadi tidak baik.

Oleh karena itu perasaan semacam ini harus dihindari. Atau bahkan ada yang bertanya, “Apakah penyakit semacam itu ada?” Hanya karena melihat atau memandang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang bisa jadi di luar nalar manusia.

Hal ini di jawab Rasulullah Saw melalui sabdanya:

العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين

Artinya: “Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.” (HR. Muslim).

Jadi pada hakikatnya penyakit ain atau penyakit yang ditimbulkan oleh mata yakni efek dari mata itu sendiri.

Adapun efek yang ditimbulkan seperti yang dijelaskan secara definisi diatas yakni ketika hal tersebut masuk ke dalam hati yang dapat menyebabkan munculnya penyakit hati yakni iri maupun dengki.

Itulah sebab terjadinya penyakit ain, yang berujung pada penyakit hati sehingga seakan-akan nikmat yang telah diberikan Allah Swt kepada hambanya tidak adil. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Falaq ayat 5:

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Artinya: “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

Oleh karena ini, nikmat yang diberikan kepada Allah Swt perlu kita syukuri. Bahkan Allah Swt mewanti-wanti atas kejahatan dari sifat yang ditimbulkan dari penyakit ain yang berujung pada iri dan dengki. Allah Swt berfirman dalam surah An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32).

Rasulullah Saw bersabda:

أكثرُ مَن يموت بعدَ قضاءِ اللهِ وقَدَرِهِ بالعينِ

Artinya: “Sebab paling banyak yang menyebabkan kematian pada umatku setelah takdir Allah adalah ain.” (HR. Al-Bazzar).

Lantas bagaimana cara mengatasi penyakit tersebut, berikut ini cara yang bisa dilakukan sebagaimana yang ditulis Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Jawab Al-Kafi Liman Saa’la Ad-Dawa Asy-Syafi.