Kolom

Cerita tentang IKADA JABOTABEK vs ITTISAQ

Khairul Fahmi
×

Cerita tentang IKADA JABOTABEK vs ITTISAQ

Sebarkan artikel ini

SEBELUM mondok di Darussalam, Saifurrahman sempat menimba ilmu di Tebuireng selama tiga tahun. Di sana ia aktif di organisasi pelajar di lingkungan pesantren. Selain itu juga ia aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia). Keluarganya memang KB (Keluarga Besar) PII. Ilmu organisasi di PII rupanya yang dipakai untuk membidani kelahiran FKIP bersama Ridwan Hilmi.

Sementara itu, aku belum pernah mengenal organisasi sama sekali. Waktu MTs dulu tidak aktif menjadi pengurus OSIS. Yang dilakukan Saifurrahman dan Ridwan Hilmi telah membuka mataku tentang organisasi pelajar dengan melibatkan aku mengurus FKIP.

Di PP Darussalam, sebagaimana pesantren kebayakan berdiri organisasi daerah, tempat berhimpunnya santri yang berasal dari daerah yang sama. Bila di pesantren lain namanya konsulat (misalnya Konsulat Jakarta untuk santri yang berasal dari Jakarta), di Darussalam namanya IKDAS disambung nama daerahnya. Kami yang berasal dari Jabotabek berhimpun dalam wadah IKDAS Jabotabek.

Sebelum aku ke Darussalam IKDAS JABOTABEK sudah lama berdiri, tapi namanya IKADA JABOTABEK. Ketika aku kelas dua kepengurusannya diserahkan kepada kami. Aku termasuk pengurusnya. Ilmu yang aku dapat dari Saifurrahman dan Ridwan Hilmi di FKIP aku terapkan sebisa mungkin untuk mengurus IKADA Jabotabek.

Saifurrahman karena berasal dari Cirebon, ia berhimpun dalam orda yang bernama ITTISAQ (Ittihad Ath Tholabah Al Islamiyyah Asy Syarqiyah/ persatuan pelajar islam bagian timur). Semua pelajar yang berasal dari Cirebon, Indramayu, dan Jawa Tengah-Jawa Timur, dan Bali berhimpun di sini.

Di kelas kami (MAPK Putera) saat itu ada 5 orang santri yang berasal dari Cirebon dan Indramayu, yaitu Saifurrahman dan Imron Rosadi (Cirebon), Edi Junaidi, Muizuddin dan Fuad As Salafi (Indramayu).

Di sela-sela kegiatan kami belajar kelima orang ini terlihat sering sekali rapat di kamar Edi Junaidi. Ujung-ujungnya kamar Edi berubah seperti kantor kelurahan, berisik sekali. Suara mesin ketik tidak henti-henti terdengar siang malam. Beruntungnya aku tidak satu kamar dan bertetanggaan kamar. Kalau iya mungkin aku ikut begadang beberapa malam.

Rupanya para aktivis ini sedang mempersiapkan materi Musyawarah Besar (Mubes). Karena beberapa hari kemudian digelarkan sebuah perhelatan di lingkungan Pesantren yang tidak hanya dihadiri santri dari daerah-daerah tadi, tapi mengundang Pimpinan Pesantren. Acara dibuka oleh Bapak Pengasuh.

Mubes itu Mubes pertama. Dalam Mubes itu tercetus nama ITTISAQ. Nama itu berasal dari usulan Fuad As Salafi, yang kemudian disetujui peserta Mubes.

Aku sebagai Pengurus IKADA JABOTABEK tidak mau kalah juga, apalagi IKADA JABOTABEK sudah ada sebelum ITTISAQ. Kami berkumpul dan bermusyawah tentang ORDA kami ini. Tapi karena dapat mencontek, yang kami lakukan tidak sebagus ITTISAQ. Murid tidak mungkin lah mengalahlan gurunya. Itu pasal 1 yang berlaku di mana-mana di belahan dunia manapun.

Saat itu ada beberapa Orda yang berdiri di PP Darussalam. Selain IKADA JABODETABEK dan ITTISAQ ada juga IKUN (Ikatan Kuningan, dan nama lain yang aku tidak ingat lagi. Yang jelas nama-namanya diambil dari nama daerah masing-masing, kemudian dibuat singkatan (akronim). Di antara orda-orda yang ada, secara fair aku harus akui yang terbesar dan terapih adalah ITTISAQ. Dua penyebabnya : yang pertama, punya konseptor sekelas Saifurrahman. Yang kedua, ITTISAQ ini kalau dalam logika negatifa ia himpuban orang-orang bukan Jabotabek, Garut, Bandung, Ciamis, Tasik, dan wilayah Jawa bagian Barat lainnya. Keanggotaannya menjadi sangat luas dan tidak terbatas. Santri dari Balipun ikut di sini. Mungkin kalau ada dari Irian Jaya ikut juga. Sayangnya tidak ada.