Ekonomi

Cina Kuasai Industri Rokok Elektrik Dunia

Anatasia Wahyudi
×

Cina Kuasai Industri Rokok Elektrik Dunia

Sebarkan artikel ini
industri rokok elektrik
Ilustrasi: unsplash.com/E-Liquids UK.

Di Cina, pendapatan yang dihasilkan dari pasar rokok elektrik diproyeksikan mencapai US$1,2 miliar pada tahun 2024.

BARISAN.CO – Tahun 2024, pasar rokok elektrik diproyeksikan menghasilkan pendapatan sebesar US$26 miliar pada tahun 2024 menurut laporan Statista. Sementara, nilai pasar industri rokok elektrik global diperkirakan US$46,98 miliar pada tahun 2030.

Negeri Tirai Bambu merupakan produsen terbesar rokok elektrik, yang mana 90% rokok elektrik di dunia dibuat di sini. Ini terjadi mungkin karena negara ini adalah asal dari industri rokok elektrik.

Tahun 2021, nilai pasar industri rokok elektrik Cina mencapai 116 miliar yuan menurut Statista. Nilai pasarnya meningkat lebih dari 500 persen dalam beberapa tahun terakhir, dan diperkirakan meningkat dua kali lipat lagi sebelum akhir tahun 2023. Sebagian besar penjualan rokok elektriknya ditujukan ke pasar internasional.

Di Cina, pendapatan yang dihasilkan dari pasar rokok elektrik diproyeksikan mencapai US$1,2 miliar pada tahun 2024. Pasar diperkirakan akan mengalami tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 3,61% (CAGR 2024-2028).

Sebagai produsen rokok elektrik terbesar di dunia, Cina menyaksikan peningkatan tren generasi muda yang beralih dari rokok tradisional ke rokok elektronik.

Salah satu sasaran industri rokok elektrik dari Cina ialah Indonesia. Kepada 2FIRSTS, alasannya karena jika produk akhir diisi dan dirakit di Cina lalu dikirim ke Indonesia, waktu tunggu di bea cukai tidak dapat diprediksi. Selain itu, Indonesia memiliki peraturan yang relatif longgar mengenai pemasaran rokok elektrik.

Kemudahan integrasi produksi dan penjualan yang disebabkan oleh jumlah penduduk yang besar merupakan salah satu keuntungan besar. Populasi Indonesia adalah yang terbesar keempat di dunia, yaitu 280 juta jiwa, 40% dari total populasi di Asia Tenggara. 

Terlebih lagi, Indonesia memiliki tingkat perokok terbanyak di dunia dengan populasi perokok mencapai 70,2 juta jiwa. Global Adult Tobacco Survey mengungkapkan, jumlah perokok elektrik mengalami kenaikan dari 0,1 persen pada 2011 menjdi 3 persen pada 2021.

Inilah yang menarik Cina untuk berinvestasi pada Indonesia. Rokok elektrik yang diproduksi di Indonesia berpotensi untuk dikonsumsi di dalam negeri sehingga memangkas biaya pengiriman ke negara lain.

Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengizinkan iklan tembakau di televisi dan media. 

Cina mengendus Indonesia sebagai sasaran empuk. Maka kemudian mereka membangun pabrik di Indonesia tepatnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur yang dikelola PT Smoore Technology. Nilai investasinya mencapai US$80 juta. [dmr]