Lingkungan

COP28 Usai, Dunia Sepakat Akhiri Penggunaan Energi Fosil

Avatar
×

COP28 Usai, Dunia Sepakat Akhiri Penggunaan Energi Fosil

Sebarkan artikel ini
COP28
Ilustrasi: AFP/Guiseppe Cacace.

Keputusan yang disetujui oleh 198 negara dalam COP28 menyerukan transisi dari bahan bakar fosil ke sistem energi yang lebih adil, teratur, dan merata.

BARISAN.CO Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perubahan iklim, atau COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, 198 negara sepakat untuk menggeser fokus energi dari bahan bakar fosil. Ini adalah panggilan pertama yang disetujui secara luas di seluruh dunia.

Persetujuan ini diharapkan dapat mengatasi akar penyebab utama perubahan iklim, yang selama ini dihindari meskipun beberapa negara menyadari perlunya langkah lebih lanjut. Setelah diskusi panjang selama 13 hari, Presiden COP28, Sultan Al Jaber, yang memimpin KTT di negara dengan kekayaan sumber daya minyak, secara resmi menyetujui kesepakatan tersebut.

Al Jaber menyatakan apresiasinya atas kesediaan untuk bertindak, menyoroti fleksibilitas dan prioritas pada kepentingan bersama di atas kepentingan individual. Meskipun peran Al Jaber dalam perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab pernah memunculkan kekhawatiran dari kalangan aktivis lingkungan, disetujuinya panggilan tersebut dianggap sebagai momen “bersejarah”.

Dia menggambarkan pembicaraan tentang bahan bakar fosil sebagai langkah baru dalam kesepakatan akhir mereka. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah penting pertama dalam menciptakan dunia yang lebih baik, bersih, serta memperjuangkan kemakmuran yang merata.

Wopke Koekstra, Kepala Divisi Iklim Uni Eropa, menyebut kesepakatan tersebut sebagai sesuatu yang sudah lama ditunggu. Menurutnya, KTT perubahan iklim membutuhkan waktu hampir 30 tahun untuk “mulai melangkah menjauh dari penggunaan bahan bakar fosil”.

Kesepakatan yang disetujui oleh 198 negara tersebut menyerukan transisi dari bahan bakar fosil ke sistem energi yang lebih adil, teratur, dan merata. Selain itu, kesepakatan itu menegaskan perlunya tindakan yang lebih besar dalam dekade kritis ini dan komitmen untuk tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca hingga tahun 2050, dengan harapan mencapai tujuan yang semakin sulit untuk mengendalikan pemanasan global pada 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri.

Saat ini, suhu planet telah naik sekitar 1,2 derajat Celsius, dengan tahun 2023 dikatakan sebagai salah satu tahun terpanas dalam 100.000 tahun terakhir. Hal ini telah menyebabkan peningkatan badai, kekeringan, serta kebakaran hutan yang meluas di seluruh dunia. [dmr]