Cerpen

Dilarang Mencintai Bunga-Bunga

Edhie Prayitno Ige
×

Dilarang Mencintai Bunga-Bunga

Sebarkan artikel ini
Bunga-Bunga
Ilustrasi: Barisan.co

KEMARIN anggrek yang kupasang tiba-tiba jatuh dan pot berantakan. Pot itu kemudian kulempar ke jalanan. Tak berapa lama ada yang mengembalikan.

“Ra popo, ayo teruske. Mung kembang kok, lanang ki olah raga rasah nandur kembang,” terdengar suara gumam.

Mendadak saya ingat Kuntowijoyo. Dalam cerpennya, Kuntowijoyo membuka bahwa dunia memang tidak hitam putih. Ada warna lain, abu-abu, merah, biru, dan lainnya.

Gusti Allah juga tak memaksa manusia jadi pahlawan atau kyai. Nyatanya koruptor dari tingkat RT hingga tingkat paling puncak masih bisa menjalankan aksinya, artinya Gusti Allah tak memaksa harus menghormati makhluk lain.

Dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga, Buyung “dipaksa” untuk mengikuti stereotip yang menempel pada laki-laki.

“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan bolehlah. Tetapi engkau laki-laki,” kata sanga ayah.

Buyung sendiri sangat senang ketika pulang dan membawa setangkai anggrek ungu pemberian Kakek, tetangganya, sahabatnya.

“Untuk apa di kamar, hah, laki-laki mesti di luar kamar!” kata ayah Buyung.

“Untuk apa tangan ini, hah? Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, Buyung. Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!” teriak sang ayah.

Kata-kata itu diucapkan ayah Buyung dengan penuh emosi ketika mengetahui Buyung lebih suka merawat bunga-bunga daripada mengerjakan pekerjaan “keras” lainnya.

Barangkali saya memang tak boleh mencintai bunga-bunga. Saya laki-laki dan sebaiknya saya bermain volley, kalau perlu sambil merusak tanaman bebungaan milik tetangga.

“Ini bukan soal harga atau duit. Duit itu berapapun bisa dicari. Setidaknya bisa dengan ngutang atau bahkan ngemis, korupsi, nyolong, dan lainnya. Ini soal kecintaan, dan cinta memang tak bisa diperjualbelikan,” kataku kepada Beethoven yang sudah beberapa pekan tak pulang.

“Lalu kenapa mesti mendongkol?” sanggah Beethoven.

Kucing orange milik anak wedok ini rasanya menjadi teman diskusi yang hebat.

“Saya tak mendongkol. Saya jadi paham apa yang dirasakan mas Damtoz Andreas ketika tiap malam ada yang berusaha menjadi juara dunia volley dengan berlatih tanpa mempedulikan tetangga. Ini pengalaman langka. Dan menyadarkan saya bahwa saya laki-laki yang sebaiknya bermain volley daripada merawat bunga,” saya menjelaskan.

“Kok ngomongnya nyinyir gitu?”

“Bukan nyinyir, Ini serius. Bukankah Indonesia dan kampung kita ini dikenal dan ngetop di dunia international karena permainan tim bola volley-nya? Bukan karena keindahan negaranya, bukan karena keindahan kerukunan saling menghormati warganya? Volley itu penting demi bangsa dan negara. Maka, sebagai kucing jantan, sebaiknya kau tak perlu mencintai bunga-bunga. Tirulah mereka yang suka olahraga sambil menebar ancaman dan ketakutan,” kataku.

Beethoven melompat. Prang!!!!!

Tela, biyangane!!!! Sepiring mendoan tersebar kesenggol buntutnya Beethoven. [][][]