Opini

Gus Baha dan Anies Baswedan

Ahmad Rouf Qusyairi
×

Gus Baha dan Anies Baswedan

Sebarkan artikel ini
Gus Baha
Ilustrasi: Republika.

GUS BAHA adalah salah satu kiai paling terkenal dan fenomenal di Indonesia saat ini. Namanya banyak diperbincangkan orang, karena ceramah-ceramahnya terkenal membumi dan mudah dipahami oleh umat.

Di sela ceramahnya, Gus Baha juga sering melemparkan guyonan-guyonan segar.

Belakangan ini, nama Gus Baha semakin santer dibicarakan masyarakat. Hal ini tak lepas dari kunjungan Anies Baswedan, bacapres dari Koalisi Perubahan.

Dalam kunjungan tersebut, Anies diterima di tempat tinggal Gus Baha di Rembang, Jawa Tengah. Dalam kunjungan ini, Gus Baha dan Anies Baswedan berbincang cukup lama selama 2,5 jam.

Menurut kakak kandung Gus Baha, yaitu Gus Mahasin, 2,5 jam adalah durasi terpanjang Gus Baha menerima tamu. Gus Mahasin menambahkan bahwa obrolan Gus Baha dan Anies Baswedan berlangsung dengan gayeng alias seru.

Uniknya, kunjungan dan obrolan Anies Baswedan ke Pesantren Narukan ini tidak diabadikan dengan kamera. Bahkan, kunjungan tersebut juga tidak diunggah di akun media sosial Anies Baswedan. Padahal bila diunggah, hal tersebut tentu bagus untuk meningkatkan popularitasnya. Tapi Anies tidak melakukan hal tersebut.

Menurut sumber yang dekat dengan Anies Baswedan, apa yang dilakukan tersebut memang menjadi bagian dari tirakat Anies di bulan Ramadan. Dalam tirakat ini, Anies benar-benar ingin mendengar suara tokoh masyarakat dan rakyat, tanpa sorot kamera sama sekali.

Menariknya, saat kunjungan ke Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA Narukan yang diasuh Gus Baha, Anies Baswedan diajak diskusi di joglo di tegalan sawah, tempat khusus bagi Gus Baha untuk uzlah.

Tak hanya itu, Anies juga diajak Gus Baha untuk mengunjungi rumah geladak. Rumah ini merupakan peninggalan leluhur Gus Baha yang berusia ratusan tahun. Kunjungan Anies ke rumah dan ponpes milik Gus Baha ini seperti kunjungan sahabat yang akrab, intim, dan menyenangkan.

Kunjungan Anies Baswedan ke Gus Baha ini memang terasa istimewa. Bila tokoh lain berkunjung ke Gus Baha pasti ingin berfoto bersama dan diunggah ke media sosial, lengkap dengan durasinya, tapi Anies memilih tidak melakukan hal itu. Sebab, Anies ingin bicara dari hati ke hati.

Perkara durasi pun, pihak keluarga tuan rumah yang menyampaikan. Anies tidak menyebutkannya. Bagi orang atau tokoh lain yang memerlukan pengakuan, pertemuan seperti itu harus diumumkan di media sosial lengkap dengan durasinya.

Padahal, menurut saksi mata yang mengetahui kegiatan tokoh lain tersebut, durasinya tidak sampai dua jam. Bahkan tidak sampai satu jam.

Tapi  begitulah, maqom atau kelas orang memang berbeda-beda. Bagi orang yang masih mengutamakan pengakuan diri dan ego, apa pun harus ditunjukkan ke khalayak sebagai bentuk pencitraan.

Berbeda dengan Anies Baswedan yang tingkat spiritualitasnya sudah tinggi. Anies sepertinya menyadari, tak semua harus ditunjukkan ke masyarakat demi pencitraan belaka. Anies, memang sudah mencapai level yang berbeda sebagai tokoh nasional. [dmr]