Kontemplasi

Hadirkan Living Books

Ardi Kafha
×

Hadirkan Living Books

Sebarkan artikel ini
hadirkan living books
Ilustrasi foto: Pexels.com/Pixabay

KETIKA ada orang penting lewat, sontak kita menjura padanya. Ketika berhadapan dengan orang dewasa, kita langsung menaruh rasa respek.

Lain ketika berhadapan dengan anak-anak, kita anggap angin lalu. Kita biasa saja. Seolah anak tidak perlu didengar. Anak tidak penting diperhatikan. Seakan anak itu remeh.

Padahal orangtua mesti jauh untuk memberi perhatian kepada anak. Orangtua harus menaruh respek kepada anak. Berarti, orangtua menyerah pada anak? Tidak!

Orangtua tidak membungkuk semata anak, tetapi demi nilai di balik sosok anak, Tuhan. Bahwa Tuhan telah mengamarkan kita untuk menaruh respek kepada yang lemah. Itulah, ada hukum yang lebih tinggi, yang harus kita tegakkan, yakni memuliakan yang lemah.

Sehingga benar adanya jika Charlotte Mason mengatakan, “Namun, pernahkah kita merenung bahwa di mata Sang Ilahi, kedudukan anak itu lebih tinggi dibanding orang dewasa; bahwa kitalah yang harus ‘menjadi seperti kanak-kanak’, bukannya mereka yang menjadi seperti orang dewasa.” (Vol. 6, hal. 81).

Charlotte ingin mengembalikan posisi orangtua di atas jalur rel yang benar, sebagai pelayan. Bahwa menjadi seperti anak-anak, niscaya menempatkan diri kita sebagai orang yang tidak sok kuasa, tidak sebagai tuan.

Maka, sungguh tepat, sekira orangtua “menjadi seperti kanak-kanak”. Anak-anak jauh lebih lemah ketimbang kita yang dewasa. Dari segi apa pun, mereka lemah. Kita mesti bisa menempatkan diri sebagai pelayan, bahkan harus, mengutip Charlotte, “dengan rasa takzim”.

Kita (mesti) memahami anak-anak itu apa adanya berikut segala potensi dalam diri mereka, secara mendalam, dengan rasa takzim.” (Vol. 6, hal. 81).

Terus begini, pertanyaan yang biasa mengemuka, “bolehkah orangtua menetapkan ekspektasi yang tinggi pada anak?”

Dari berbagai obrolan parenting, jawabnya “boleh”. Kita bisa menetapkan ekspektasi. Namun, tetap kudu hati-hati. Sebab ekspektasi bisa abused. Sebaliknya, tanpa ekspektasi akan chaos.

Lantas? Itulah seni mendidik anak.

Kita mafhum, seperti halnya hukum alam, untuk berkembang harus melawan entropi. Nah, ekspektasi merupakan upaya menarik anak tidak menyerah jatuh dalam entropi. Oleh karenanya, guna menghindari abused, saat menetapkan ekspektasi kita harus memiliki cukup pengetahuan tentang kodrat anak.

Dengan mengenali kodrat anak secara spesifik, niscaya kita tidak salah menjabarkan ekspektasi. Kita pun bisa menikmati proses. Sebab kita tidak akan terlena atau hanya fokus pada hasil.

Dalam hal ini kita bisa menelisik kembali soal “proses” dan “hasil” yang tidak bisa dibalik-balik. Kita mesti sadar untuk berlelah-lelah menempuh “proses”. Tidak boleh misalnya, lebih memprioritaskan “hasil”, lebih menginginkan hasil prima. Bahwa setiap perintah harus langsung dituruti, tapi dengan proses yang salah.

Apalagi diiringi dengan mengiming-iming, memanipulasi hasrat anak, dan seterusnya, yang pada pokoknya kita tak bersabar, langsung memainkan sugesti anak.

Padahal, siapa pun kita, dalam kodratnya, gampang disugenti. Dan memang, kita dikelilingi oleh sugesti. Kita kerap melakukan sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan tersugesti. Lantaran tren. Lantaran banyak yang melakukan.