Lingkungan

Harga Energi Terbarukan Lebih Mahal Cuma Mitos

Anatasia Wahyudi
×

Harga Energi Terbarukan Lebih Mahal Cuma Mitos

Sebarkan artikel ini

Hal yang sering kali digaungkan dari energi terbarukan ialah soal biaya. Namun, benarkah lebih mahal ketimbang bahan bakar fosil?

BARISAN.CO – Dunia masih bergantung dengan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama. Terlepas dari peningkatan produksi dan penggunaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan, bahan bakar fosil tampaknya akan terus menjadi kebutuhan utama pemenuhan energi.

Akhir tahun lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, energi fosil masih mendominasi bauran energi nasional hingga 87,4 persen. Persentase itu hanya naik 0,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau sebesar 88 persen.

Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menilai, masyarakat berpenghasilan rendah belum siap dengan biaya energi baru terbarukan (EBT) karena harga yang mahal. Namun sebenarnya, berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC) mengungkapkan, sebesar 50,3 persen masyarakat Indonesia bersedia membayar lebih mahal demi menggunakan energi terbarukan ini. Alasannya antara lain karena ingin berkontribusi dengan energi terbarukan terus dikembangkan, tidak menimbulkan kerusakan lingkungan, dan sumber energi ini dianggap lebih berkualitas.

Hal yang sering kali digaungkan dari energi terbarukan ini memang soal biaya. Padahal, studi telah menunjukkan, harga energi terbarukan jauh lebih murah ketimbang fosil. Pada tahun 2021 misalnya, IRENA melaporkan, dua pertiga dari daya terbarukan yang baru dipasang di negara-negara G20 memiliki biata lebih rendah dari pada bahan bakar fosil. Dengan harga yang terus-menrus murah tersebut, bahan bakar fosil sebenarnya justru semakin mahal.

Doyne Farmer, seorang ilmuwan di Universitas Oxford melalui studinya menyebut, energi terbarukan bukan hanya murah tetapi bisa menghasilkan uang.

Orang-orang berpikir membutuhkan banyak uang untuk membuang seluruh sistem energi dan menggantinya, namun Doyne menjelaskan, sebenarnya kita selalu melakukan ini. Misalnya, pompa bensin yang selalu diganti setiap 25 tahun. Jika saja pergantian, itu dilakukan untuk pompa pengisian kendaraan listrik, Doyne berpendapat, kita akan mencapai tujuan iklim yang ditetapkan oleh banyak negara.

Doyne adalah bagian dari tim yang pada tahun 2010 memperkirakan, energi matahari akan lebih murah daripada listrik berbahan bakar batu bara pada tahun 2020. Saat mereka menulis ini di jurnal Nature, orang tidak mempercayai mereka.

Saat itu, mereka dianggap gila. Namun, timnya telah mengamati tren biaya energi matahari dan menganggap mereka akan terus berlanjut selama dekade berikutnya atau lebih dan ini terbukti benar.

Data dari 20 tahun terakhir, katanya, sekarang menunjukkan bahwa matahari dan angin akan segera mengambil alih pembangkit listrik. Saat ini, memanfaatkan energi terbarukan tersebut biasanya lebih murah daripada membangun pembangkit berbahan bakar fosil baru.

Tenaga surya dinobatkan sebagai sumber energi termurah dalam sejarah pada tahun 2021, diikuti oleh angin darat dan offshore. Ini merupakan peningkatan yang dramatis dibandingkan biaya energi matahari satu dekade lalu. Fakta selanjutnya adalah harga tenaga surya telah turun sebesar 82 persen sejak 2010 – dengan biaya turun sebesar 13 persen pada tahun 2021 saja.

Penyebab Harga Bahan Bakar Fosil Lebih Mahal