Berita

Ilham Habibie: Tanpa Industri yang Kuat, Tak Ada Indonesia Emas 2045

Anatasia Wahyudi
×

Ilham Habibie: Tanpa Industri yang Kuat, Tak Ada Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini

“Kalau kita lihat negara-negara lain di Asia Timur dan Asia Tengah setelah masuk ke dalam kelompok negara maju itu, saya kira tidak ada satu pun yang masuk ke situ tanpa memiliki industri yang kuat,” Ilham Habibie (Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara)

BARISAN.CO – Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara (FDN) Ilham Akbar Habibie sangat percaya pada ideologi bahwasanya sebagai negara dan bangsa perlu untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan menerapkannya. Hal itu Ilham sampaikan dalam diskusi Forum Dialog Nusantara (FDN) ke-16 “Pentingnya Industrialisasi dalam Mempercepat Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045” di Perpustakaan Habibie & Ainun Jakarta, Senin (13/11/2023).

Sesuai rencana resmi Bappenas, untuk mencapai Indonesia Emas 2045, Indonesia perlu mempunyai manusia unggul yang bisa mengembangkan industri.

“Kalau kita lihat negara-negara lain di Asia Timur dan Asia Tengah setelah masuk ke dalam kelompok negara maju itu saya kira tidak ada satu pun yang masuk ke situ tanpa memiliki industri yang kuat. Kita lihat saja Jepang, Korea, Taiwan, bahkan China pun dalam beberapa dekade, dasawarsa yang lampau telah mampu mengembangkan dan mendorong memperkuat industri mereka masing-masing sehingga bisa mendatangkan kesejahteraan secara kontinu di negara masing-masing,” kata Ilham.

Ilham mengakui, untuk menjadikan manusia unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi ini perlu waktu.

“Kita harus belajar dari pendahulu kita, guru, kolega, industri sendiri di mana kita bekerja, dan sebagainya dan itu satu proses perjalanan manusia bertahun-tahun. Kalau kita lihat manusia yang menjalankan itu memang merupakan satu hal, sistem yang melibatkan banyak sekali orang,” tambah Ilham.

Ilham menyebut, proses belajar inilah yang membuat manusia menjadi terbaharukan. Di sisi lain, kata Ilham, di Indonesia dalam beberapa belas tahun terakhir gejala yang muncul justru deindustrialisasi.

“Deindustrialisasi adalah di mana industri masih tumbuh, tapi di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Jadi, kalau ekonomi kita tumbuh katakanlah 5%, industri tumbuh tapi hanya 4%,” jelas Ilham.

Ilham memaparkan, ini terjadi karena Indonesia yang berkembang adalah sektor primer dan tersier.

“Primer terkait dengan sumber daya alam, yang sekunder terkait dengan industri, dan tersier terkait dengan jasa. Yang berkembang di indonesia yang primer dan tersier,” jelas Ilham.

Sementara, ungkap Ilham, sektor sekunder di Indonesia sangat kurang. Ilham menegaskan, sektor sekunder patut didorong untuk membuat kita lebih sejahtera, maju, berdaulat, berkelanjutan secara berkesinambungan. [Yat]