Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Indonesia Terhadap Israel: Tegas Menolak Diplomasi, tapi Mesra Secara Ekonomi

Redaksi
×

Indonesia Terhadap Israel: Tegas Menolak Diplomasi, tapi Mesra Secara Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Ketua Center For Islamic Studies In Economics and Development (CISFED) Farouk Abdullah Alwyni menilai, pemerintah Indonesia perlu mempertegas sikapnya terhadap Israel. Jangan sampai, kepentingan ekonomi mengaburkan objektif dalam menilai situasi geopolitik yang sedang terjadi.

“Sebenarnya sebagai negara yang berpegang terhadap amanah konstitusi, persoalan untung-rugi ekonomi adalah nomor dua. Di sini adalah bagaimana kita bisa konsisten terhadap konstitusi kita yang menolak segala macam bentuk penjajahan dan penindasan antara satu bangsa kepada bangsa yang lain.” Kata Farouk Alwyni saat Barisanco meminta keterangan, Selasa (18/5/2021).

Menurut Farouk, untuk menguatkan dukungan terhadap Palestina, pemerintah Indonesia perlu bergerak lebih jauh dari sekadar deklarasi. Dalam hal ini, pemerintah dapat mulai memakai instrumen ekonominya untuk memberi ‘hukuman’ terhadap Israel.

Indonesia tidak ada salahnya menyerukan boikot, sanksi, dan divestasi (BDS) terhadap produk-produk Israel. Secara nyata hal ini sudah dilakukan oleh beberapa negara, salah satunya Irlandia, dalam upaya mendukung penuh kemerdekaan Palestina.

Apa yang dilakukan Irlandia, menurut Farouk Alwyni, patut dijadikan contoh. Irlandia secara resmi melarang kongsi perdagangan dengan kawasan yang berstatus di bawah kekuasaan Israel.

Meski ada sekitar 500 ribu hingga 1 juta poundsterling per tahun yang hilang dari kebijakan tersebut, Irlandia tak ambil pusing. “Mereka lebih penting untuk menegaskan diri sebagai negara yang anti terhadap penindasan dibanding urusan ekonomi.”

Farouk melanjutkan, “Banyak instrumen yang bisa digunakan pemerintah Indonesia. Bisa misalnya memberlakukan larangan seluruh entitas hukum di Indonesia berhubungan dengan entitas hukum Israel. Atau, bisa pula meningkatkan tarif impor terhadap Israel, seperti halnya yang dilakukan Amerika terhadap China yang dikenal istilah trade war.”

Farouk yakin pemerintah bisa memiliki ketegasan yang sama. Ia percaya bahwa Indonesia adalah negara yang berpegang kepada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Mengapa tidak? Ini justru akan menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bermartabat, mempunyai pemihakan yang jelas, dan memegang prinsip-prinsip bahwa ada yang lebih besar dari ekonomi. Saya pikir seluruh bangsa besar akan berpegang hal-hal tersebut,” pungkas Farouk. []