Khazanah

Jadi Budak karena Cinta, Celakalah Hamba Dinar dan Dirham

Lukni Maulana
×

Jadi Budak karena Cinta, Celakalah Hamba Dinar dan Dirham

Sebarkan artikel ini
cinta dan budak
Ilustrasi foto: Barisan.co

Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari).

BARISAN.CO – Cinta bagi seorang hamba bukan sekadar ucapan ‘aku cinta padamu’ bahkan melampaui emosi. Tapi dalam perspektif para pesalik bahwasanya cinta bukan sekadar emosi dan hasrat duniwi.

Sungguh cinta adalah gerakan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Puncak dari kedekatan itu yakni benar-benar menjadi seorang hamba.

Hal ini sebagaimana sebuah kisah Rasulullah Saw ditawari Allah Swt dua hal yakni, menjadi Nabi dan Raja atau Nabi dan Hamba. Rasulullah Saw menjawab, “Nabi dan Hamba.”

Sebagaima diketahui jawaban pertama menjadi Nabi dan Raja telah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman As yang mengusasi dunia ini dengan ilmu hikmah. Nabi Sulaiman dapat berkomunikasi dengan hewan dan bahkan dengan tumbuhan, selain itu ia juga dapat berinteraksi dengan Jin.

Namun Rasullah Saw memilih untuk jadi hamba sebab puncak dari cinta itu adalah menjadi hamba yakni budak Allah Swt.

Syekh Ibnu Athaillah menerangkan tentang mencintah pasti jadi budak yang di cintai. Sebagaimana bunyi maqolah

 ماَاَحْبَبْتَ شَيْئًا الاَّ كُنْتَ لَهُ عبْدًا وَهُوَ لاَيُحِبُّ انْ تكُونَ لِغيْرِهِ عَبْداً

Tiada engkau mencintai sesuatu melainkan pasti engkau menjadi budak (hamba) dari apa yang engkau cintai, dan Allah tidak suka bila engkau menjadi hamba sesuatu selain dari pada-Nya.”

Cinta merupakan jalan untuk menyatukan diri dengan keberadaan Ilahi, yang merupakan tujuan utama dari kehidupan dunia. Sungguh cinta tidak terbatas pada hubungan antarmanusia, melainkan juga mencakup cinta terhadap alam semesta dan semua ciptaan Tuhan.

Hakikat cinta yakni mengajarkan bahwa cinta adalah sebuah perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan Tuhan.

Melalui proses mencintai, seseorang dapat menemukan makna sejati keberadaannya dan merasakan kehadiran ilahi dalam setiap aspek kehidupan. Ini adalah proses transformatif di mana hati manusia terbuka sepenuhnya untuk mengalami kehadiran Tuhan. Sehingga ia benar-benar menjadi budak atau hamba Allah Swt.

Oleh karena itu jangan sampai terjebak dan terseret pada dorongan duniawi, namun bagaimana duniawi ini menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dengan mencintai tanpa syarat, seseorang belajar untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan ego, sehingga dapat mencapai keadaan kesadaran yang lebih tinggi. Dalam esensi, cinta menjadi budak adalah panggilan untuk menyelami kedalaman ruhaniah dan mencapai persatuan dengan Sang Khalik.

Sebagaimana syarah dalam kitab Al-Hikam tentang menjadi budak yang di cintai, hal ini bila mencintai sesuatu pastilah selalu menghadap dan tunduk pada sesuatu tersebut, dan selalu taat pada semua perintahnya.

Rasulullah Saw bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari).

Lebih lanjut dalam syarah Al-Hikam menyabutkan bahwa Al-Junaid berkata: “Engkau takkan mencapai hakikat ‘Ubudiyyah (penghambaan), selama engkau masih diperbudak oleh sesuatu selain Allah, yaitu harta, istri atau lain-lainnya.