Berita

Jadi ‘Kambing Hitam’, Direktur Penyidikan KPK Dikabarkan Mengundurkan Diri 

Avatar
×

Jadi ‘Kambing Hitam’, Direktur Penyidikan KPK Dikabarkan Mengundurkan Diri 

Sebarkan artikel ini
irektur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu (Foto: VOI)

Direktur Penyidikan (Dirdik) KPK Brigjen Asep Guntur Rahayu mengundurkan diri dari jabatannya imbas polemik penetapan tersangka Kepala Basarnas Hendri Alfiandi

BARISAN.CO – Penetapan Kepala Basarnas Hendri Alfiandi jadi tersangka korupsi menuai polemik. Pihak TNI menganggap KPK telah menyalahi aturan terkait penindakan anggota militer.

KPK selanjutnya memohon maaf terkait itu. KPK mengakui bahwa terdapat kesalahan dalam penetapan status tersangka bagi anggota TNI tersebut.

Imbas polemik itu, Direktur Penyidikan (Dirdik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Brigjen Asep Guntur Rahayu dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya.

Berdasar informasi beredar, Asep telah mengumumkan pengunduran dirinya lewat aplikasi pesan singkat. Dia menyebut surat resmi akan disampaikan pada Senin, 31 Juli.

“Sebagai pertanggungjawaban saya selaku Direktur Penyidikan dan Plt. Deputi Penindakan, dengan ini saya mengajukan pengunduran diri karena tidak mampu mengemban amanah sebagai Direktur Penyidikan dan Plt. Deputi Penindakan. Surat resmi akan saya sampaikan hari Senin,” Kata Asep dalam pesan singkat yang dikirimkan di internal dikutip Jumat, 28 Juli.

“Apa yang saya dan rekan penyelidik, penyidik, dan penuntut umum lakukan semata-mata hanya dalam rangkaian penegakan hukum untuk memberantas korupsi,” sambungnya.

Pimpinan KPK Tidak Bertanggungjawab

Sementara itu, Mantan penyidik KPK Novel Baswedan mengkritik keputusan Pimpinan KPK yang dinilai melempar tanggung jawab atas penetapan tersangka Kepala Basarnas Henri Alfiandi. Padahal, setiap keputusan proses penyidikan diputuskan oleh Pimpinan KPK.

“Pimpinan KPK tidak tanggung jawab. Setiap kasus melalui proses yang detail bersama Pimpinan KPK dan pejabat struktural KPK,” kata Novel dalam cuitan pada akun media sosial Twitter, Jumat (28/7).

Novel menyayangkan pernyataan Wakil Ketua KPK Johanis Tanak yang mengaku khilaf dan meminta maaf atas penetapan tersangka terhadap Kabasarnas RI Henri Alfiandi.

Ia pun mempertanyakan tidak adanya Firli Bahuri, yang malah menghindar pergi main badminton ke Manado.

“Kok bisa-bisanya menyalahkan penyelidik/penyidik yang bekerja atas perintah Pimpinan KPK. Kenapa tidak salahkan Firli yang menghindar dan main badminton di Manado?,” cetus Novel.

“Setelah tahu ada OTT, Firli langsung pergi ke Manado. Setelah itu salahkan pegawai KPK, memang Firli ini hebat, ahli siasat. Tapi Ketua KPK meresmikan gedung dan main badminton, apa itu bagian dari tugasnya?,” sesal Novel. [rif]