Opini

JIS dan BTS

Yayat R Cipasang
×

JIS dan BTS

Sebarkan artikel ini
Jakarta International Stadium (JIS)

Saran yang masuk akal dan tidak rumit. Kecuali PSSI dan Pemerintah mau memperumit persoalan sederhana. Kalau itu sih soal pilihan.

Sekali lagi, kalau memang sudah ada enam stadion atau lebih yang standar FIFA kenapa ngotot renovasi JIS. Itu pertanyaan yang harus dijawab biar kecurigaan publik tidak liar. Sampai Ketum PSSI Erick Thohir dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono harus menyaksikan ahli rumput bongkar lapangan dan melihat akar rumput tembus tanah atau tidak. Apa urgensinya untuk pertandingan singkat? Sementara rumputnya masih bagus dan hijau. Lapangan dan fasilitas lainnya sejak awal sudah disupervisi FIFA dan konsultannya juga berpengalaman membangun stadion di Inggris dan juga Piala Dunia Qatar 2022. Insinyurnya dari Indonesia, tenaga kerjanya lokal bukan dari China. Itu hebat dan bersejarah.

Sayang, uang Rp6 miliar hanya untuk membongkar rumput yang hijau dan masih bagus. Dan lapangan pun dalam perhelatan tersebut tak digunakan setiap hari. Padahal duit Rp6 miliar itu kalau merujuk pada pernyataan Presiden Jokowi ngumpulinnya susah. Orang pajak harus gedor-gedor pengusaha. Sampai rakyat jelata makan di restoran pinggir jalan saja dipajakin. Coba, gimana Pemerintah kejam dan mubazir plus tidak berempati kepada rakyat.

Saran

Sebelum benar-benar rumput dibongkar dan diganti dengan yang baru saya sarankan, Pemerintah mending mengalihkan dana dan melakukan percepatan pembangunan Stasiun LRT dan Stasiun Commuterline di sekitar JIS. Justru Presiden Jokowi harus pecut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk menyelesaikan stasiun kereta yang kabarnya baru 30 persen progresnya. Atau kalau masih lelet, pecat saja mereka yang tidak becus kerja.

Sementara PSSI justru harus fokus pada prestasi Timnas U-17 agar menjadi juara dunia. Apalagi peluangnya sangat besar karena sebagai tuan rumah. Tapi bila para elitenya hanya sibuk ngurusin soal rumput dan soal areal parkir, bisa-bisa Timnas keok di babak penyisihan. Nanti citra Erick Thohir yang menurut survei masuk kandidat bakal calon wakil presiden bisa rontok.

Ingat, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai net zero emission maksimal pada tahun 2060. Indonesia berjanji untuk mengurangi CO2 melalui National Determined Contribution (NDC) sebesar 32% dengan upaya sendiri dan 43% dengan dukungan internasional pada tahun 2023.

Terus, bagaimana upaya pemerintah bisa mengejar target 2023 dan 2060 bila ikhtiar JIS dengan membatasi tempat parkir saja dipermasalahkan. Padahal JIS dengan menyediakan parkir untuk 1.400 unit mobil tersebut dalam rangka membantu target net zero emossion Pemerintah. JIS artinya menganut prinsip stadion yang berkelanjutan. Dan itu ciri stadion modern di dunia.

Kenapa JIS justru dipermasalahkan Pemerintah? Dan terkesan masalah dicari-cari. Dari sinilah lahirnya keusilan netizen. JIS yang singkatan dari Jakarta International Stadium kemudian diplesetan menjadi Jokowi International Stadium.

Sama seperti halnya BTS yang kepanjangan dari base transceiver station diplesetkan menjadi Bancakan Terstruktur dan Sistematis sebagai sandingan dari singkatan TSM (terstruktur, Sistematis dan Masif) dalam istilah kecurangan pemilu.