Berita

Jubir AMIN: Katanya Kurikulum Merdeka, Tapi Susah Internet

Anatasia Wahyudi
×

Jubir AMIN: Katanya Kurikulum Merdeka, Tapi Susah Internet

Sebarkan artikel ini

Di Desa Sumowono, Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, satu-satunya provider yang bisa dapat sinyal hanya Telkomsel. Namun, provider ini dikenal paling mahal di Indonesia.

BARISAN.CO – DPD Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) Kabupaten Purworejo mengadakan Pemaparan Program calon presiden Anies Baswedan dan calon wakil presiden Muhaimin Iskandar, Kamis (28/12/2023). Kegiatan ini diadakan di Desa Sumowono yang terletak di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Acara itu dihadiri oleh anggota Tim Pemenangan Daerah AMIN Jawa Tengah Muhammad Agus Achidin dan Presidium DPP ANIES Korwil Jateng-DIY Sapto Widodo.

Untuk menuju ke desa Sumowono ini, jalannya cukup curam. Sehingga harus berhati-hati. Namun sayangnya, perjalanan sempat terkendala karena tidak adanya sinyal internet.

Jangankan sinyal internet, sinyal biasa untuk SMS dan telepon pun sulit. Menurut penuturan warga, satu-satunya provider yang dapat sinyal hanya Telkomsel.

Dalam pemaparan program, jubir AMIN Hasreiza alias Reiza Patters menyampaikan, karena tidak ada sinyal, dia tidak bisa menghubungi panitia yang ternyata sudah menunggunya sekitar 30 menit.

“Karena ga bisa hubungin, yang bsia cuma Telkomsel, datanya paling mahal,” kata Reiza.

Dia melanjutkan, Anies dan cak Imin memiliki program internet masuk desa supaya murah dan anak sekolah mudah mendapatkan informasi.

“Ini kan aneh, katanya kurikulum merdeka, semua lewat internet. Lah, internetnya ga ada, piye?” lanjut Reiza.

Reiza mempertanyakan, bagaimana bisa belajar jika tidak ada internet.

“Internet masuk desa itu penting dan itu gampang sekali. Tarik kabel, ada satu alat yang namanya reuter untuk mendapatkan sinyal. Pasang di beberapa titik ketinggian, Insya allah satu desa bisa tercover dengan internet,” terang Reiza.

Hal itu mudah dilakukan, kata Reiza, jika mau karena yang sudah berkuasa tidak bisa melakukannya karena tidak ada kemauan.

“Harus mau dan itu sudah dibuktikan oleh mas Anies dengan program yang namanya jakWIFI. Tapi, dikurangi sama PJ Gubernur yang sekarang dari 3.500 titik jadi 1.236 titik,” ungkap Reiza.

Meski kuotanya dibatasi. menurut Reiza, internet gratis ini membantu warga dan anak sekolah.

“Kalau internet dibuka terus tar ga kerja-kerja, main internet terus. Tapi, tetap bisa login gratis cari informasi segala macam,” pungkasnya. [Yat]