Terkini

Kaum Buruh, Pembebasan dan Kecerdasan Buatan

Avatar
×

Kaum Buruh, Pembebasan dan Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini
buruh dan kecerdasan buatan
Ilustrasi foto: Unsplash/Rio Lecatompessy

Peneliti Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan menyampaikan dalam tulisannya yang berjudul Anies, Jumhur dan Pembebasan Alienasi Kaum Buruh bahwasanya problem pokok perjuangan buruh adalah pembebasan diri dari alienasi

BARISAN.CO – Setiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh atau dikenal juga dengan May Day. Merupakan peringatan dan hari libur yang dirayakan di seluruh dunia setiap tahunnya untuk menghormati perjuangan para buruh.

Para buruh memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk hak untuk kondisi kerja yang lebih baik, upah yang lebih baik, dan hak lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Lantas bagaimana menghadapi perpolitikan saat ini dan perkembangan teknologi seiring dengan penemuan kecerdasan buatan (AI)

Peneliti Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan menyampaikan dalam tulisannya yang berjudul Anies, Jumhur dan Pembebasan Alienasi Kaum Buruh bahwasanya problem pokok perjuangan buruh adalah pembebasan diri dari alienasi.

Apa itu? Alienasi adalah situasi di mana buruh tidak ikut mengontrol nilai dari produk yang dia ikut menciptakannya. Dalam dunia modern yang dikontrol kaum kapitalis, buruh hanya merupakan  skrup-skrup kecil yang disetarakan dengan alat produksi lainnya, tanah, uang dan mesin-mesin.

“Buruh bukanlah manusia, karena yang dihargai oleh majikan adalah jasa tenaga buruh. Jasa tenaga ini bukan human, melainkan satuan kerja yang dihasilkan oleh tenaga buruh per waktu tertentu. Dengan membayar satuan kerja tersebut, hubungan industrial antara buruh dan majikan terputus,” jelasnya.

Untuk mempertahankan dirinya dalam sistem reproduksi konstan, buruh harus membelanjakan uang upahnya untuk mengkonsumsi makanan. Sehingga makanan itu kembali menghasilkan tenaga untuk dijual kembali pada majikan.

“Jika dia gagal menciptakan tenaga baru, maka dia akan tersingkir dari sistem kerja yang ada. Akhirnya buruh masuk pada siklus kehidupan produksi dan reproduksi, lalu lelah dan kehilangan arti kehidupan lainnya dalam sistem sosial yang lebih besar,” terangnya.

Pada saat buruh harus bertahan hidup yang keras dalam sistem produksi kapitalis, maka dia teralienasi atau terasing. Karena hubungan antara dirinya dengan manusia lainnya, dalam sistem kerja, serta dalam proses produksi, terbatas pada kepentingan non human.

Produk hasil kerjanya juga tidak terhubung lagi pada sistem nilai atau rasa yang dia sertakan pada proses produksi.

Para pekerja dan buruh saat ini menghadapi tantangan yang signifikan akibat perkembangan teknologi dan digitalisasi yang terus berlanjut. Meskipun teknologi termasuk kecerdasan buatan membawa banyak keuntungan dan kemajuan dalam hal efisiensi dan produktivitas, namun hal tersebut juga dapat mengancam lapangan kerja dan hak-hak pekerja.

Banyak pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh manusia sekarang telah digantikan oleh mesin dan sistem otomatisasi, sehingga mengurangi jumlah pekerjaan yang tersedia.

Di samping itu, dengan adanya platform online dan aplikasi yang memungkinkan pekerja lepas dan freelancer, buruh juga menghadapi tantangan dalam hal perlindungan hak-hak mereka dan keamanan kerja.

Namun, bukan berarti teknologi hanya membawa dampak negatif bagi buruh. Dalam beberapa kasus, teknologi dan digitalisasi juga memungkinkan pekerja untuk mengakses informasi dan peluang pekerjaan yang lebih luas dan memperoleh keterampilan baru yang diperlukan di era digital ini.