Kontemplasi

Keluarga, Pilar Utama Kepemimpinan

Ardi Kafha
×

Keluarga, Pilar Utama Kepemimpinan

Sebarkan artikel ini
Keluarga, Pilar Utama Kepemimpinan
Anies Baswedan dan Ibunya

SAYA termasuk yang percaya bahwa untuk meneropong gaya kepemimpinan seseorang bisa ditengok dari rekam jejaknya memimpin keluarga.

Bahwa keberhasilan dalam memimpin keluarga sering dijadikan salah satu kriteria bagi kesuksesan seseorang. Ia belum dianggap sukses kalau keluarganya masih berantakan atau banyak persoalan yang tidak terselesaikan.

Nah, Anies Baswedan kerap menampakkan hal itu, ia tampil bersama keluarga saat kampanye politiknya, baik di atas panggung terbuka maupun dalam podcast-podcast.

Seolah pesan, betapa banyak pemimpin yang sukses dalam memimpin suatu negara misalnya, tetapi gagal dalam memimpin rumah tangga. Dan hal itu, jangan sampai terjadi.

Anies Baswedan berseru dalam kampanye, keluarga merupakan pilar utama untuk kokohnya struktur sosial suatu negeri. Ia beserta Fery Farhati berhasil membina biduk keluarga mereka.

Lagian, dalam Islam sedemikian rupa mengatur struktur keluarga. “Hai orang-orang beriman! Jagalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka,” (At-Tahrim: 6).

Kita perhatikan bahwa kita harus dengan seksama memelihara bukan saja perilaku kita sendiri tetapi juga perilaku keluarga kita. Dan semua mereka yang dekat dengan kita dan yang kita cintai. Artinya, masalah ini penting sekali, dan akibatnya jika sampai terjerumus juga sangat mengerikan.

Kemudian kita tengok sirah Nabi, benar-benar Muhammad Saw. merupakan teladan yang baik dalam kepemimpinan keluarga. Beliau adalah seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya dan suami yang baik pula bagi istri-istrinya.

Baginda Muhammad Saw. hanya memiliki seorang istri, Khadijah, selama 15 tahun sebelum kerasulan dan 10 tahun sesudahnya. Dalam masa itu, beliau sungguh seorang monogami. Sama sekali tidak ada catatan yang mengatakan bahwa Muhammad Saw. ingin menikah dengan perempuan lain baik ketika Khadijah masih hidup maupun saat belum menikah.

Artinya jelas, beliau menjalani monogami selama lebih kurang 25 tahun. Baru kemudian, setelah menduda beberapa tahun, beliau menikah lebih dari satu istri dalam kurun 11 atau 12 tahun. Beliau menjalani poligami, lebih demi mengangkat harkat para janda, kecuali Aisyah.

Ya, setelah Khadijah wafat, Muhammad Saw. menikah dengan Aisyah, tetapi pernikahan ini baru disempurnakan setelah hijrah ke Madinah. Sesudah menikah dengan Aisyah, beliau menikah lagi dengan Saudah binti Zam’ah, seorang janda yang suaminya pernah hijrah ke Ethiopia dan meninggal setelah kembali ke Makkah.

Kemudian usai Perang Badar, Muhammad Saw. menikah dengan Hafsah binti Umar bin Khattab yang ditinggal mati suaminya, Khunais. Juga Zainab binti Khuzaimah, janda Ubaidah bin al-Harits yang gugur di Badar. Tetapi Zainab meninggal dunia setelah delapan bulan hidup bersama Nabi Saw.

Empat bulan setelah Zainab wafat, Muhammad Saw. menikahi Ummu Salamah, janda Abu Salamah. Berikutnya, setelah penaklukan Bani Musthaliq, beliau menikahi Juwairiyah binti al-Harits.

Begitulah, singkatnya, pernikahan beliau sama sekali jauh dari ambisi untuk beristri banyak, tetapi demi mengangkat martabat mereka yang secara sosial jatuh tak berharga. Karena konteks zaman itu, seorang janda tak lebih dari barang yang nirnilai.