Kontemplasi

Kemurnian Gurun

Ardi Kafha
×

Kemurnian Gurun

Sebarkan artikel ini
kemurnian gurun
Ilustrasi foto: Pexels.com/Alex Azabache

Namun sejarah menceritakan, Muhammad adalah keponakan Abu Thalib yang sangat taat dan cepat belajar. Ia pintar membawa diri.

SEMENJAK tahun 578, Muhammad tinggal bersama keluarga Abu Thalib. Dan saya pun tidak bisa tidak, akan membayangkan betapa kikuk dia.

Muhammad lebih sebagai tambahan mulut yang mesti disuapi, daripada sebuah bagian penting dalam keluarga besar Abu Thalib.

Bagaimanapun Abu Thalib bukanlah keluarga berada yang akan begitu enteng menerima tambahan anggota keluarga.

Hal itu terkonfirmasi kemudian, Muhammad mesti menggembala kambing milik para kalangan kaya demi turut meringankan beban hidup keluarga Abu Thalib. Muhammad turut menjalankan karir perniagaan hingga ke Damaskus. Sampai kemudian dipercaya oleh saudagar wanita mulia, Khadijah, untuk mewakilinya ke luar Makkah.

Nah, pada awal menetap di keluarga pamannya, Muhammad dipekerjakan sebagai bocah pelayan rendahan untuk mengurus unta. Tentunya, Muhammad sangat mahir mengendalikan unta, berkat pengalamannya bersama suku Badui.

Muhammad mengurus unta-unta dalam pekerjaan kafilah dagang yang ditangani pamannya. Dan yang paling populer, perjalanan niaga yang mengarah ke Damaskus ketika ia berusia sepuluh tahun.

Saat rombongan menyusuri dataran tinggi menuju wilayah timur Sungai Yordan, di sebuah reruntuhan dinding bekas perang antara Bizantium dan Persia, Abu Thalib meminta rombongan beristirahat.

Di dekat rombongan yang tengah beristirahat, ada bangunan yang dihuni pertapa tua, Bahira. Seorang pertapa yang sudah sekian turun temurun mengabdikan hidup untuk menjaga kitab.

Bahira ini tidak pernah memperhatikan kafilah unta yang lewat, entah dari mana pun kafilah tersebut. Namun, tatkala rombongan Abu Thalib yang lewat, Bahira membaca tanda alam yang menaungi salah seorang dari rombongan.

Persisnya, Bahira melihat sebuah awan kecil di atas langit tak berawan, melayang rendah di atas satu titik tertentu di tengah-tengah kafilah.

Bahira melanggar kebiasaan, ia jadi menaruh perhatian terhadap rombongan kafilah, bahkan mengundang mereka untuk singgah.

Abu Thalib dan semua yang bersamanya, selain Muhammad yang setia menjaga unta, masuk menerima undangan Bahira.

Bahira merasa ada yang belum masuk, tetapi Abu Thalib bersikeras bahwa tidak ada yang tertinggal kecuali seorang anak kecil yang mengurus unta. Dan Bahira meminta Abu Thalib agar si anak itu disuruh serta menikmati jamuan.

Setelah semua tanpa kecuali tengah menikmati hidangan, Bahira mendekati Muhammad. Ia memeriksa dengan seksama tubuh bocah sepuluh tahun itu. Bertanya ini itu, dan Muhammad yang tak tahu menahu menjawab sepenuh hati setiap pertanyaan.

Dan sampailah pada kesimpulan, “Masa depan besar terhampar di hadapan keponakan Anda ini.” ucapnya kepada Abu Thalib.

Saya membayangkan, Abu Thalib seketika menahan geli atas ocehan pertapa tua itu. Abu Thalib sama sekali tak terpikir akan masa depan bocah yatim piatu yang diasuhnya. Yang ia tahu, ia mesti merawat Muhammad, putra tunggal saudaranya, Abdullah.

Namun sejarah menceritakan, Muhammad adalah keponakan Abu Thalib yang sangat taat dan cepat belajar. Ia pintar membawa diri.

Muhammad tahu bagaimana turut meringankan kebutuhan keluarga Abu Thalib. Dan Abu Thalib terhitung telat menyadari, betapa sang keponakan ada di dekatnya ketika diperlukan, dan menghilang saat tidak dibutuhkan.