Gaya Hidup

Kenaikan Gaji Tidak Setimpal dengan Beban Kerja, Gen Z Ogah Naik Jabatan

Anatasia Wahyudi
×

Kenaikan Gaji Tidak Setimpal dengan Beban Kerja, Gen Z Ogah Naik Jabatan

Sebarkan artikel ini

Naik jabatan berarti melakukan lebih banyak pekerjaan. Namun, bagi generasi Z itu tidak sebanding dengan gaji dan juga stresnya.

BARISAN.CO – Generasi Z disebut tidak bersemangat untuk naik jabatan. Alasannya sederhana karena kenaikan jabatan tidak setimpal dengan gaji yang didapatkan.

Mengutip Insider, Pelatih Karir Emily Rezkalla menyampaikan, melakukan lebih banyak pekerjaan untuk dipromosikan adalah bahwa hal itu tidak sebanding dengan bayarannya dan juga stresnya.

Survei perencanaan kompensasi Mercer mengungkapkan, rata-rata kenaikan gaji setelah naik jabatan sebesar 3,2%. Sedangkan total anggaran kenaikan gaji (temasuk penghargaan promosi) ialah 3,5% pada tahun 2022.

Rezkalla sendiri adalah generasi milenial yang berusia 28 tahun. Dia memahami banyak dari generasi Z yang menolak saat ada tawaran menjadi manajer.

Bagi banyak Gen Z, mudah untuk melihat manajernya dan berpikir, “No, thanks”. Mengapa harus menanggung stres tambahan, bahkan untuk gaji yang sedikit lebih besar jika hal itu mengganggu keseimbangan kehidupan kerja atau tujuan karier, bukan?

Meski manajemen bukan untuk semua orang, para bos yang ingin mempromosikan pekerja muda mereka harus melakukan lebih dari sekadar mengeluarkan uang, kata pakar karir kepada Insider.

Mereka harus memberikan dukungan, kejelasan, dan pelatihan yang diinginkan oleh banyak Gen Z – dan anggota dari semua generasi – agar merasa puas dan bersemangat di tempat kerja.

Banyak orang memandang Gen Z adalah generasi pemalas. Namun, penolakan akan kenaikan jabatan seperti ini bukan berarti mereka tidak mau bekerja keras atau belajar.

Banyak pekerja Gen Z, yang merupakan angkatan kerja termuda, mendengarkan percakapan antara rekan kerja yang lebih tua dan melakukan observasi.

Insider sebelumnya melaporkan, melihat begitu kelelahannya para manajer mereka membuat mereka tidak ingin berlomba mendapatkan posisi tersebut.

Kini, ketika keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) menjadi bagian yang lebih besar dan mungkin permanen dalam percakapan di tempat kerja. Para atasan perlu memikirkan tentang insentif lain apa yang mungkin mendorong para pekerja.

Generasi Z mengatakan alasan di luar gaji yang tidak memadai mendorong ketidakpuasan kerja mereka, termasuk kurangnya pengembangan dan kemajuan karir, dan kepemimpinan yang tidak peduli menurut survei McKinsey yang dilakukan awal tahun ini.

McKinsey juga menemukan, Generasi Z menganggap pekerjaan yang bermakna sama pentingnya dengan fleksibilitas tempat kerja ketika mereka mempertimbangkan peluang kerja. [Yat]