Esai

Kisah-kisah Pengguna Trotoar di Jakarta

Avatar
×

Kisah-kisah Pengguna Trotoar di Jakarta

Sebarkan artikel ini
Heru Budi Trotoar
Ilustrasi: Dok. Pemprov DKI.

PEMERINTAH Jakarta mendapat sorotan negatif usai menghapus jalur sepeda dan trotoar di Persimpangan Pasar Santa, Jakarta Selatan, dan mengubahnya menjadi jalur kendaraan.

Gubernur Heru Budi berdalih kebijakan itu diambil demi mengatasi kemacetan. Sayangnya, menurut keterangan warga yang tiap hari melewati jalan tersebut, kemacetan tetap terjadi.

Heru Budi agaknya telah mengeluarkan kebijakan yang tidak diuntukkan. Ia merampas hak pejalan kaki dan itu tidak memperbaiki kemacetan. Justru sekarang ia harus berhadapan dengan pejalan kaki yang marah.

Belakangan, setelah mendapat desakan dari berbagai pihak seperti Green Peace, Koalisi Pejalan Kaki, komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia, Road Safety Association, FDTJ (Forum Diskusi Transportasi Jakarta), dan KPBB (Komisi Penghapusan Bensin Bertimbel), Heru Budi dikabarkan akan mengembalikan trotoar yang didesain oleh gubernur sebelum dia, Anies Baswedan.

Seperti diberitakan Kompas.com, Pemprov DKI sekarang berencana melibatkan komunitas untuk menata ulang fasilitas pejalan kaki.

Memang agak lucu. Mungkin apa yang dilakukan Gubernur Heru Budi dalam istilah Jawa disebut mindogaweni. Dalam istilah Inggris disebut reinventing the wheels. Dua-duanya kurang lebih berarti perbuatan sia-sia demi melakukan sesuatu yang sebelumnya sudah pernah dilakukan.

Sekarang, banyak orang mulai merasakan bagaimana kebijakan Anies Baswedan—semasa ia menjadi gubernur—sangat baik dilihat dari sisi manapun. Pelebaran trotoar rupanya adalah kebutuhan sebuah kota seperti Jakarta. Bukan pelebaran jalan.

Hardian, (26), adalah salah satu warga yang tiap hari berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum. Di Jatinegara, tempat ia tinggal, ada beberapa titik yang trotoarnya dilebarkan semasa Anies menjabat.

“Trotoar yang lebar lebih nyaman dan aman, terutama pada saat jalan yang sibuk. Harusnya lebih banyak titik lagi di Jatinegara yang dilebarkan. Jangan cuma Sudirman sama Kuningan yang dibagusin,” kata Hardian.

Hardian yang merupakan pegawai swasta di kawasan SCBD menilai pelebaran trotoar belum merata. Dan semestinya gubernur penerus Anies Baswedan mampu melanjutkan proyek-proyek yang berpihak pada pejalan kaki.

“Pak Anies sudah memulai hal baik. Tapi saya juga paham banyak yang tidak menyukai keberpihakannya terhadap pejalan kaki dan pesepeda,” katanya.

Ketika mengetahui berita tentang pembongkaran trotoar di Pasar Santa, Hardian mengaku agak kecewa. Kegelisahan senada juga datang dari Arif, (34), yang menyebut Jakarta di bawah Gubernur Heru Budi seperti melakukan set back.

“Trotoar udah bagus-bagus malah dibongkar. Akhirnya kebiasaan-kebiasaan jadul kembali lagi,” kata Arif.

Ia melihat salah satu masalah utama di Jakarta sejak dulu adalah trotoar yang sempit dan tidak terawat, sehingga sulit bagi pejalan kaki berjalan dengan nyaman dan aman. Selain itu, banyak trotoar di Jakarta yang rusak atau tidak rata, sehingga membahayakan keselamatan pejalan kaki terutama orang lanjut usia dan anak-anak.

“Pak Anies ada inisiatif memperbaiki kondisi itu. Pas dia menjabat banyak trotoar yang nyaman digunakan. Ibaratnya kalau sekarang trotoar dibongkar, Jakarta sedang set back. Kalau bisa jangan dibongkar lah,” kata Arif. [dmr]