Berita

Konsumsi Rokok Terus Naik, Indonesia Terlalu Ramah Pecandu

Anatasia Wahyudi
×

Konsumsi Rokok Terus Naik, Indonesia Terlalu Ramah Pecandu

Sebarkan artikel ini

Regulasi yang ada saat ini belum bisa menekan tingkat konsumsi rokok.

BARISAN.CO – Menurut Susenas BPS 2023, prevalensi perokok Indonesia berusia 15 tahun ke atas sebesar 28,62% atau naik sebanyak 0,36% dibandingkan tahun sebelumnya.

Ahmad Fanani Program Director Indonesia Institute for Social Development (IISD) menyampaikan, sebenarnya bukan sekadar data prevalensi, konsumsi tembakau di Indonesia sangat memprihatinkan.

Indonesia, kata Fanani, merupakan negara yang ramah pecandu. Itu dikarenakan, selain sangat ramah terhadap industri, Indonesia juga salah satu negara yang paling lemah melarang iklan, sponsor dan promosi (IPS). Maka, tidak mengherankan jika Indonesia berada di posisi buncit dalam Kartu Laporan Pengendalian Tembakau di ASEAN terkait implementasi WHO Framework Convention on Tobacco Control dari Seatca (Southeast Asia Tobacco Control Alliance) di tahun 2023.

“Instrumen yang paling kuat hanya finansial. Sebenarnya regulasi kita sudah punya KTR (Kawasan Tanpa Rokok), namun dimana pun orang masih merokok. Barang kali merokok merupakan hukum yang paling banyak dilanggar,” kata Fanani dalam Diskusi Publik Outlook Industri Tembakau Indonesia 2024 di Jakarta, Selasa (30/1/2024).

Belum lagi, ungkap Fanani, jika melihat jumlah produksi industri rokok yang terus mengalami peningkatan.

“Data impornya terus naik sekitar 5x lipat dari 29.579 ton di tahun 2003 menjadi 143.320 ton pada 2022. Data ini membantah konsumsi rokok ditekan karena lebih besar. Sementara di sisi ekspor, kenaikannya tidak signifikan,” ujar Fanani.

Konsumsi tembakau itu suplainya, ujar Fanani, dari dua jalur baik produksi lokal dan impor.

Selain itu, IISD pada akhir 2023 menemukan, penjualan tembakau iris begitu luar biasa.

“Di pinggiran Jakarta itu toko tembakau sangat masif. Dari 40 toko yang kita survei, omsetnya paling kecil Rp3 juta sehari bahkan bisa mencapai Rp1 miliar per bulan,” urai Fanani.

Range harga untuk tembakau grade A sekitar Rp200 ribu per kilo sedangkan untuk grade C Rp40 ribu per kilo.

“Satu kilo bisa dapat 5 kali lipat (dari rokok konvensional yang dijual industri). Kalaiu lihat dari sisi konsumsinya jadi naik kalau begini. Bocornya di tembakau iris karena dianggap konsumsinya kecil dikecualikan dari berbagai aturan,” pungkasnya. [Yat]