Terkini

Makna Tangisan Gus Imin dalam Pelukan Anies di JIS

Yayat R Cipasang
×

Makna Tangisan Gus Imin dalam Pelukan Anies di JIS

Sebarkan artikel ini

Gus Imin, pantas untuk menangis. Menangis bahagia sekaligus tangisan penuh tanggung jawab bila kelak ditakdirkan memimpin Imdonesia bersama Anies Baswedan.

SEBENARNYA ada dua momen tangisan yang bisa dikatakan sangat bersejarah bagi bangsa ini. Dua tangisan dalam dua tempat berbeda oleh calon presiden Anies Baswedan dan kemudian cawapres Muhaimin Iskandar (Gus Imin).

Anies menangis saat pernyataan penutup (clossing) debat kelima. Tangisan Anies bukan hanya sebagai bentuk keharuan dan rasa bungah lantaran semua debat disapu bersih dan menempatkannya sebagai “raja debat” tetapi juga sebagai bentuk kegusarannya lantaran penguasa saat ini berlaku zalim dan tidak adil terutama kepada rakyat miskin. Ketimpangan dimana-mana. Kelompok yang kaya semakin kaya dan yang miskin tambah miskin. Dan yang lebih parah, kemiskinan justru dipelihara dan dikapitalisasi untuk elektabilitas.

Tangisan juga sebagai bentuk kejengkelan Anies atas penguasa yang susah sekali menghadirkan keadilan dan kemakmuran. Padahal negara ini memiliki sumber daya alam yang melimpah dan juga sumber daya manusia yang unggul.

Dalam tulisan ini tidak akan mengulas lebih jauh mengenai cucuran air mata atau tangisan Anies. Namun yang mengejutkan saya mengenai Gus Imin yang nangis dalam pelukan erat Anies Baswedan di panggung rapat akbar di Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (10/2/2024).

Saya baru kali ini menyaksikan Gus Imin menangis. Selama kampanye dua bulan ini baik langsung atau lewat televisi dan streaming saya tak pernah menyaksikan Gus Imin menangis. Saya lebih banyak mendengarkan pidato politik dan gaya slepetannya yang belakangan ini sangat pedas. Termasuk berani berkonfrontasi dengan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Malah Gus Imin menunggu tantangan dan ajakan Luhut untuk terjun langsung menyaksikan hilirisasi nikel di sejumlah smelter terutama yang disebut-sebut sebagai proyek strategis nasional (PSN).

Belakangan ajakan Luhut itu tak pernah nyaring lagi setelah ajakan itu diamini Gus Imin. Sepertinya Luhut tak menduga tantangannya bakal diladeni seorang Gus Imin yang selama bergabung dengan koalisi Indonesia Maju seperti “anak manis”.

Tangisan Penuh Makna

Seperti halnya tangisan Anies, Gus Imin juga mempertontonkan tangisan politik yang penuh makna. Selain sebagai bentuk syukur juga Gus Imin merasakan dan berempati selama dua bulan kampanye banyak rakyat yang berharap berubah hidupnya ke arah yang lebih baik.

Cara kampanye Anies dan Gus Imin yang beda dengan pasangan calon lainnya memungkinkan informasi terserap lebih banyak. Kampanye dialogis yang egaliter dan tidak berjarak memungkinian masyarakat menyampaikan harapan, aspirasi dan tuntutannya secara jujur dan orisinal.

Beda dengan dua pasangan capres lainnya yang kampanye satu arah. Mereka masih berkampanye secara konvensional, pengerahan massa, melibatkan artis dan konser musik plus uang saku dan nasi kotak. Sementara aspirasi dan harapan masyarakat justru mereka abaikan. Visi dan misi capres menjadi manifes mati dan tidak bisa dikoresi serta dikritisi.

Gus Imin, pantas untuk menangis. Menangis bahagia sekaligus tangisan penuh tanggung jawab bila kelak ditakdirkan memimpin Imdonesia bersama Anies Baswedan.

Dwitunggal ini merasa terharu melihat antusiasme jutaan orang yang hadir di JIS tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya tetapi juga dari luar kota dari berbagai pulau seperti Sumatra, Kalimantan dan Indonesia Timur.