Gaya Hidup

Melalui Homeless Media Membangun Ekosistem dan Wirausaha Media Sosial

Lukni Maulana
×

Melalui Homeless Media Membangun Ekosistem dan Wirausaha Media Sosial

Sebarkan artikel ini
homeless media
Ilustrasi foto: Pexels.com/Kerde Severin/

BARISAN.CO – Seiring perkembangan teknologi informasi dan perubahan zaman saat ini dihadapkan dengan era homeless media. Sehingga koran cetak mulai tergeser dan bahkan media online hanya menjadi media kedua.

Perkembangan media tidak dapat terelakan lagi, ketika dulu Koran menjadi idaman dan saat ini media online berupa website menjadi kebutuhan. Perkembangan media berita telah menciptakan tranformasi global seiring maraknya media sosial.

Media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatshapp dan platform video YoUtube telah memberikan platform yang memungkinkan berita dan informasi tersebar dengan cepat di seluruh dunia.

Pengguna media sosial dapat menjadi penyampai berita langsung, membagikan pemikiran mereka tentang peristiwa terkini. Selain itu juga menjadi ruang memperoleh informasi dari berbagai sumber dengan mudah.

Hal ini mengarah pada kecepatan dan aksesibilitas informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, memungkinkan orang-orang untuk terlibat secara langsung dalam pembentukan narasi berita. Bahkan tidak perlu naungan berupa perusahaan, individu-individu bisa bergerak sendiri.

Perkembangan media inilah yang disebut homeless media yakni media yang merujuk atau memanfaatkan media sosial sebagai ruang memberikan sajian informasi. Jadi bukan Koran cetak maupun website atau portal online.

Cukup mengandalkan perangkat handphone atau gadget seseorang bisa membangun dan membuat media. Bukan sekadar sebagai eksitensi diri namun perkembangan media yakni ia mampu membangun media berita yang menyajikan kebutuhan dari konsumennya.

Koran cetak dan media online sibuk mencari iklan iklan programmatic dan direct. Karena media konvensional dan media online ini membutuhkan perangkat dan teknisi yang tidak sedikit, selain itu juga biaya yang besar.

Misalnya untuk koran cetak, tentu membutuhkan percetakan yang berkualitas. Dan bahkan koran cetak informasi yang disajikan untuk saat ini sudah dapat dipastikan tertinggal. Begitu juga media online untuk membuat dan membangunya diperlukan biaya yang besar mulai dari beli domain dan hosting.

Selain itu teknisi dari webmaster dan maintenance website, belum lagi perangkat lain yang membutuhkan marketing dan branding yang kuat untuk mengenalkannya.

Sementara melalui homeless media hanya sekadar install aplikasi yang disediakan dari pihak pertama. Tanpa perlu bersusah payah membuat, mendesain atau maintenance yang membutuhkan biaya bisar.

Dengan homeless media siapa saja bisa menjadi wirausaha media, terlebih lagi jika ia adalah figur yang dikenal atau tiba-tiba viral dan followers atau pengikutnya banyak. Maka ia akan mendapatkan hasil dari usahanya baik berupa iklan programmatic dan direct, bahkan endorsement barang maupun jasa.

Bersamaan dengan keuntungan menjadi wirausaha media melalui homeless media, perkembangan berita melalui media sosial juga menimbulkan tantangan tersendiri. Selain bagaimana tantangan untuk menyajikan informasi yang bermanfaat untuk konsumen juga dihadapkan penyebaran informasi palsu atau hoaks.

Melalui homeless media memungkinkan informasi yang belum terverifikasi menyebar dengan cepat, yang dapat membingungkan masyarakat dan merusak integritas informasi. Oleh karena itu, ada tuntutan untuk kritisisme informasi dan literasi media yang lebih tinggi di tengah penggunaan media sosial sebagai sumber berita utama.