Gaya Hidup

Memaknai Jarak Hubungan dan Penerimaan Duka dari Lagu Tulus

Diautoriq Husain
×

Memaknai Jarak Hubungan dan Penerimaan Duka dari Lagu Tulus

Sebarkan artikel ini
Tulus
Ilustrasi: Instagram/@tulusm.

Tulus berhasil memikat banyak penggemar lewat lirik-lirik estetis yang mengajak pendengar menuju suasana hati lebih baik.

BARISAN.CO Bagi penikmat lagu-lagu Indonesia, siapa yang tak mengenal penyanyi bernama Tulus. Lirik lagunya yang khas, apalagi dilantunkan dengan suaranya yang merdu membuat banyak orang menyukai karya-karyanya.

Namun, di luar soal kualitas olah vokal dan estetika bait lagu, pria bernama lengkap Muhammad Tulus Rusydi ini tetap memperoleh tempat di hati para penggemarnya karena tembangnya yang menghadirkan ekpresi hati yang tulus menerima keadaan apapun, baik itu bahagia atau malah sedang nelangsa. 

Kemudian, dari penerimaan itulah ia mengajak pendengarnya untuk beranjak ke suasana hati yang lebih baik.

Sehingga, boleh dibilang tak berlebihan bila lagu-lagu penyanyi kelahiran 20 Agustus 1987 ini layaknya obat penawar bagi hati yang sedang dilanda lara.

Memaknai Jarak

Lagu “Ruang Sendiri” adalah salah satu lagu Tulus yang unik, di mana ia menceritakan perspektifnya tentang jarak dalam sebuah hubungan dua sejoli. Berbeda dari lagu kebanyakan yang umumnya melihat jarak sebagai suatu permasalahan dalam kisah percintaan.

Tulus dengan penilaian yang lebih dewasa justru melihat itu sebagai kelaziman dalam dinamika hubungan sepasang kekasih. Ia mampu membahasakan soal jarak itu bagaikan oase untuk hubungan yang sedang dalam fase jenuh. 

Seperti dalam penggalan liriknya yang berbunyi, “Beri aku kesempatan tuk bisa merindukanmu (jangan datang terus)”. Bahkan, jarak dapat dimaknai juga sebagai cara pembaharuan suasana hubungan yang lebih hangat dan erat.

Hati-hati di Jalan

Ketika lagu “Ruang Sendiri” bercerita tentang kewajaran adanya jarak dalam hubungan, maka lagu “Hati-hati di Jalan” adalah tentang menerima kenyataan pahit. Apabila duka itu dilalui melalui 5 tahap Model Kübler (The Five Stages of Grief), yakni DABDA (Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance).

Maka, lagu “Hati-hati di Jalan” mewakili fase terakhirnya, Acceptance (penerimaan). Lagu tersebut memang berkisah soal perpisahan dari cinta yang kandas. “Tentang ujung cerita, kita tak bersama,” dikutip dari penggalan lirik lagu.

Dari lagu tentang perpisahan itu, Tulus membawa musik dan liriknya pada suasana memupuk rasa ikhlas. Di mana dengan menerima perpisahan kemudian membuka lembaran baru dengan keyakinan harapan yang lebih baik.

Sehingga makin kuat pesan lagu ini ketika ditutup dengan lirik, “Kau melanjutkan perjalananmu, ku melanjutkan perjalananku.”

Fase ini dalam 5 tahap berduka Model Kübler adalah fase terberat. Sebab, pada fase ini seseorang sudah menyadari peristiwa buruk yang menimpanya dan tak dapat mengubah peristiwa itu.

Dan, lagu “Hati-hati di Jalan” tak luput menunjukkan rasa sedih yang ditimbulkan dari pengalaman pahit itu. Sehingga, sebagai fase terakhir, menerima artinya melanjutkan hidup dan membuka lembaran baru dengan “Hati-hati di Jalan”.

Selalu menarik memang mendengar dan mengulik interpretasi dari lagu-lagu Tulus. Meski bait-bait lagunya dihiasi dengan kalimat-kalimat metaforis, tapi isi lagu tulus mampu menjamah ke persoalan yang dekat bahkan melekat dengan pendengarnya, baik itu soal cinta, semangat, juga perpisahan dan lainnya. Maka dari itu, Tulus lewat lagunya menemani penggemarnya di setiap suasana. [dmr]