Kontemplasi

Menabung Sabar

Ardi Kafha
×

Menabung Sabar

Sebarkan artikel ini
Menabung Sabar
Ilustrasi foto: Pexels.com/Samcoldest

ALLAH punya cara untuk mencintai manusia, sebagaimana kita juga punya cara untuk mencintai orang lain.

Dan memang, kadang cinta itu unik. Allah sedemikian mencintai seseorang, tapi justru Allah akan menurunkan bala kepadanya. Oleh karenanya, ketika ada bala, ada bencana, mesti kita lihat dalam perspektif itu, bahwa Allah punya cara unik dalam mencintai manusia.

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155).

Ayat tersebut menandaskan Allah pasti menguji, karena Allah mencintai. Pertama berupa rasa takut. Jadi kalau ada rasa takut di diri kita, bisa dilihat dengan perspektif ini.

Perasaan takut itu macam-macam. Seperti takut adanya musuh. Bahwa adanya musuh adalah ujian Allah. Bahwa kita ketemu orang yang membikin kita ketar-ketir, tidak merasa aman, itu adalah bagian dari ujian Allah. Atau, takut kondisi peperangan. Adanya peperangan seperti di Palestina, juga bagian dari ujian.

Kedua, Allah menguji kita berupa kelaparan, baik bencana kelaparan maupun rasa lapar itu sendiri.

Nah, kalau kita baca sejarah, Rasulullah Saw. itu sering lapar. Beliau sering diuji Allah dengan sering mengalami kelaparan. Menu makan beliau tidak banyak. Tidak hanya begitu, beliau kalau berpakaian pun ya, hanya itu-itu saja. Ada yang memperkirakan pakaian beliau tidak ada seratus potong. Kemudian tempat tidur Rasulullah itu hanya pelepah, berbantal kain perca.

Artinya, Rasulullah Saw. sedemikian memperkecil nilai dunia, tidak mementingkan ego duniawi, dan tidak memanjakannya. Karena sekecil apa pun hal-hal duniawi ini adalah ujian, dan akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Semakin kecil keterkaitan dengan dunia, semakin ringan beban di akhirat. Namun, kebanyakan kita tidak memilih demikian.

Padahal, baca sirah kita akan miris. Sangat berbanding terbalik dengan kita yang mendaku umat Nabi Muhammad Saw. Kita dapat masalah sedikit saja terkait ketidakenakan di dunia sudah buru-buru pamer ke media sosial. Harga BBM naik sudah cuap ke mana-mana. Sudah pamer kesulitan kepada orang lain. Memprotes keadaan.

Sedianya, andai hari-hari ini kita tidak diuji Allah berupa kelaparan, jangan bosan untuk melaparkan diri. Caranya, makan sesuai porsi, tidak over, tidak berlebihan, atau bahkan sampai tega mengambil jatah orang lain.

Misal kita kelebihan harta, pasti pengin makan enak, tapi jangan sampai melebihi setengah hidup kita. Bahwa dalam seminggu ada tujuh hari, makan enak paling banter tiga hari, yang tiga hari makan yang tidak enak, dan satu hari benar-benar kita pakai untuk merasakan lapar. Biar kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Rasulullah Saw.

Ketiga, kita akan diuji dengan berkurangnya harta. Ini susah sebab harta merupakan perkara yang paling dicintai manusia.

Kerap terlihat, Allah mengurangi harta kita, seketika kita mengeluh, kita akan menjadikannya alasan untuk tidak beribadah, untuk membenci Allah, untuk membenci keadaan, bahkan membenci sesama yang lain.

Maka tak bisa tidak, kita mesti mengonsep ulang tentang harta. Bahwa sebenarnya ada “harta” bersifat dzahir, dan “sesuatu dinilai harta” berupa karakter mulia yang batiniah.