Edukasi

Menebar Jala Hadits Ifki Jelang Pilpres 2024, Belajar dari Kisah Hoaks Zaman Nabi Muhammad

Lukni Maulana
×

Menebar Jala Hadits Ifki Jelang Pilpres 2024, Belajar dari Kisah Hoaks Zaman Nabi Muhammad

Sebarkan artikel ini
Hoaks Zaman Nabi
Ilustrasi foto: Pexels.com/Alex Fu

BARISAN.CO – Jelang pemilu dan pilpres saat ini akan dihadapkan dengan hoaks atau informasi palsu, tentu hal ini menjadi ancaman serius bagi integritas dan proses demokrasi. Ternyata berita palsu atau hoaks juga dialami Nabi Muhammad Saw.

Maraknya hoaks yang tersebar di media sosial maupun media daring tentu akan mempengaruhi persepsi masyarakat. Hoaks seringkali dimanfaatkan untuk memanipulasi opini publik, menciptakan ketidakpercayaan terhadap berbagai hal baik secara individu maupun kelembagaan. Begitu juga hoaks pada masa Nabi Muhammad Saw, ketika beliau menerima berita palsu pada bulan Sya’ban tahun ke-5 Hijriyah.

Dikutip dari tulisan M. Ishom el-Saha di laman kemenag.go.id, hoaks atau dikenal dengan hadits ifki yakni berita hoaks pada zaman Rasulullah Saw hampir saja memecah belah persatuan dan kesatuan kaum Anshar dan Muhajirin.

Pada suatu ketika, orang Muhajirin menendang salah satu orang dari kaum Anshar, sehingga terjadilah adu mulut di antara keduanya. Kaum Anshar tidak terima atas perlakuan orang Muhajirin, maka iapun mengucapkan hal-hal yang menyakitkan hati dan bahkan umpatan jahiliyah.

Tentu hal ini membuat kaum Muhajirin tidak terima karena telah diumpat dengan kata jahiliyah. Dilain pihak kaum Anshar tidak terima karena telah ditendang orang kaum Muhajirin. Kedua orang dari kaum Muhajirin dan Anshar membut keduanya mengadu kepada Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw menerima dengan baik, informasi dari kedua belah pihak. Kasus atau persoalan tersebut lalu diusut dan dicarikan penyelesaiannya. Ternyata konflik yang terjadi antara orang Muhajirin dan Anshar disebabkan perbuatan adu domba oleh sekelompok dari kaum munafik yang dilakukan oleh  bdullah bin Ubay.

Adu domba tersebut dilakukan Abdullah bin Ubay dengan cara memberikan informasi atau berita palsu. Sebab Abdullah bin Ubay dan golongannya merasa isi dan dengki terhadap persatuan atau kekompakan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam perang Bani Musthaliq.

Perang tersebut disebabkan provokasi kepala Suku Bani Musthaliq, bernama al-Harits bin Abi Dhirar yang mengajak suku-suku Arab agar melawan Rasulullah Saw.

Lalu Rasulullah Saw mengutus Buraidah bin al-Hasib, untuk mencari informasi dan memastikan provokasi yang dilakukan Al-Harits bin Abi Dhirar. Kalau saat ini posisi Buraidah bin al-Hasib bisa dibilang seperti intelejen untuk menggali berita atau informasi rencana kudeta yang dilakukan Bani Musthaliq.

Kemudian, Buraidah bin al-Hasib melakukan penyamaran dan bertemu langsung dengan al-Harits bin Abi Dhirar. Setelah ditelusuri, Buraidah bin al-Hasib mendapatkan informasi dan bukti ada rencana penyerangan Bani Musthaliq ke kota Madinah.

Karena mendapatkan informasi akan ada penyerangan yang dilakukan Bani Musthaliq, Rasulullah Saw memutuskan mendahului penyerangan terhadap Bani Musthaliq.

Pada hari kedua bulan Sya’ban, Rasulullah Saw bersama sahabat dan pasukannya tiba di kawasan al-Muraisi’, tempat sumber mata air di sebelah Qadid, dekat Mekkah.

Upaya penyerangan yang dilakukan Rasulullah terhadap Bani Musthaliq didukung penuh kekuatan seluruh lapisan masyarakat Madinah. Abu Bakar memegang bendera golongan Muhajirin sedangkan Sa’ad bin Ubadah memegang bendera kaum Anshar.