Tokoh & Peristiwa

Mengenal Haenyeo, Penyelam Perempuan di Pulau Jeju

Anatasia Wahyudi
×

Mengenal Haenyeo, Penyelam Perempuan di Pulau Jeju

Sebarkan artikel ini

Hanyeo dapat menahan napas selama 1-2 menit dan dapat menyelam hingga kedalaman 5 hingga 20 meter tanpa alat apapun dan dapat menghabiskan waktu hingga 7 jam sehari di laut.

BARISAN.CO – Drama Korea sering kali menyematkan unsur budaya. Misalnya saja Our Blues (2022) dan Welcome to Samdal-ri (2023) yang mengenalkan budaya penyelam perempuan yang disebut dengan “haenyeo“.

Visit Korea menyebut, enurut catatan resmi, haenyeo Korea telah ada selama seribu tahun. Pada tahun-tahun awal, laki-laki dan perempuan bekerja sama, laki-laki disebut “pojak” dan perempuan disebut “jamnyeo”. Diperkirakan laki-laki menangkap abalon dan perempuan mengumpulkan tanaman laut seperti rumput laut, dan jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Sedangkan, catatan pertama tentang haenyeo berasal dari tahun 1629, dan selama 350 tahun mereka biasa menyelam dengan mengenakan pakaian katun yang disebut mulsojungi. Baru pada tahun 1970-an penyelam perempuan ini mulai mengenakan pakaian selam karet seperti yang mereka kenakan saat ini.

Secara keseluruhan, jumlah laki-laki tergolong rendah dalam populasi karena tingginya porsi laki-laki yang meninggal di laut yang ganas saat memancing dengan perahu. Akibatnya, tidak banyak laki-laki yang memanen abalon untuk pajak pemerintah, sehingga perempuan secara bertahap mengambil alih pekerjaan tersebut karena kebutuhan. Hal ini memulai pergeseran budaya dimana perempuan menjadi satu-satunya penyelam di Jeju.

Perempuan di Jeju terbiasa dengan laut sejak usia dini karena lingkungan pulau. Di usia awal remaja, mereka berlatih berenang dan menyelam di laut. Di usia pertengahan remaja, mereka memulai debut mereka sebagai haenyeo. Kemudian, di akhir masa remaja mendapatkan pengalaman untuk menjadi haenyeo sejati, membekalinya dengan kekuatan ekonomi.

Seorang haenyeo ditempatkan ke dalam peringkat rendah, peringkat menengah, dan peringkat tinggi sesuai dengan keahliannya. Mereka dapat menahan nafas selama 1-2 menit dan dapat menyelam hingga kedalaman 5 hingga 20 meter tanpa alat apapu. Selain itu, dapat menghabiskan waktu hingga 7 jam sehari di laut. Mereka yang hidup sebagai haenyeo sepanjang hidupnya, dan selama dia sehat, dia terus bekerja bahkan sampai usia tuanya.

Pangkat tinggi di atas adalah pangkat tertinggi haenyeo, yaitu Daesanggun, yang merupakan pemimpin komunitas haenyeo. Kelompok elit ini tidak hanya harus memiliki keterampilan memanen makanan laut yang hebat, tetapi juga harus memiliki kemampuan memprediksi cuaca seakurat mungkin. Sudah puluhan tahun tinggal di dekat laut, mereka bisa memprediksi cuaca hanya dengan mendengarkan suara ombak. Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang Daesanggun Haenyeo dapat memprediksi cuaca lebih akurat daripada ramalan cuaca.

Penyelam perempuan di Pulau Jeju adalah lambang pemberdayaan perempuan, dengan budaya menyelam mereka yang masuk dalam daftar warisan takbenda dunia pada 2016. UNESCO menambahkan budaya haenyeo yang semuanya perempuan ke dalam daftar warisan budayanya karena aktif memainkan peran utama dalam menyatukan keluarga mereka dan memiliki gaya hidup yang selaras dengan alam.

Meski ada upaya untuk melestarikan budaya Haenyeo, Kyoto Journal mencatat, jumlah penyelam perempuan terus menurun. Pada puncaknya terdapat 23.000 perempuan yang bekerja di industri ini, sementara saat ini terdapat sekitar 4.500 penyelam dan hanya 2.500 yang bekerja penuh waktu. Pada tahun 2014, lebih dari 98% haenyeo berusia lebih dari 50 tahun. [Yat]