Opini

Menunggu Debat Terbuka Tom Lembong vs Luhut Pandjaitan x Bahlil Lahadalia

Yayat R Cipasang
×

Menunggu Debat Terbuka Tom Lembong vs Luhut Pandjaitan x Bahlil Lahadalia

Sebarkan artikel ini

Tom Lembong juga mendukung Gus Imin untuk menerima ajakan Luhut berkunjung ke Morowali biar sama-sama berenang di pantai yang lautnya keruh dan coklat akibat limbah smelter.

THOMAS Trikasih Lembong alias Tom Lembong, namanya terus meroket atawa trending topic belakangan ini. Headline media daring menempatkan isu Tom Lembong sebagai berita yang secara algoritma bisa dikapitalisasi secara finansial. Sementara bagi pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar (AMIN) isu tersebut seperti hadiah karena kalau dikapitalisasi bisa menjadi elektabilitas.

Semuanya berawal dari debat cawapres kedua di Jakarta Convention Center. Saat itu Gibran Rakabuming Raka menyindir Muhaimin Iskandar membaca contekan dalam debat. Secara tidak langsung contekan (bahasa bakunya: sontekan) atau orang di belakang cemerlangnya Gus Imin dalam debat keduanya itu dianggap Gibran lantaran ada sosok Tom Lembong di kubu AMIN.

Gibran tentu sangat paham dengan kecerdasan Tom Lembang karena selama tujuh tahun bersama Jokowi dari saat gubernur DKI Jakarta hingga jadi presiden, Tom Lembong adalah pemberi sontekan dan juga penulis pidato Jokowi.

Gibran yang menjadi representasi Jokowi memang ada alasan untuk menyindir dan mungkin juga marah kepada Tom Lembong yang selama ini mantan Menteri Perdagangan itu sangat kritis kepada kebijakan pemerintah khususnya dalam hilirisasi nikel.

Padahal hilirisasi itu program unggulan pemerintah yang selalu dibanggakan selama ini. Sampai ada jokes apapun masalahnya penyelesaiannya adalah hilirisasi.

Dunia mengakui, Indonesia sebagai salah satu negara pemilik cadangan nikel terbesar. Hilirisasi juga menjadikan Indonesia sebagai pemain nikel dunia. Sampai-sampai Uni Eropa pun ‘ngemis’ kepada Indonesia.

Rupanya anggapan itu dianggap sebagian kalangan justru ‘halu’. Pasar nikel yang tidak seimbang dan Indonesia menyerahkan penguasaannya kepada China, justru membuat pasar dan harga nikel dunia ditentukan China. Sementara masyarakat Indonesia tidak menikmatinya dan alam pun rusak.

Eropa atau negara lain yang minim pasokan nikel tentu berpikir keras dan mengerahkan ilmuwannya serta mamaksimalkan research and development (R&D) untuk menemukan sumber lain selain nikel sebagai bahan bahan baterei kendaraan listrik.

Dan jauh sebelum debat, Tom Lembong dalam sejumlah siniar (podcast) menyatakan bahwa dunia kini tidak lagi mengandalkan nikel untuk baterei mobil listrik tetapi juga menggunakan lithium ion phosphate atau LiFePO4 (LFP).

Nah, LFP ini yang kemudian tidak hanya memicu goncangan besar dalam debat tetapi juga justru yang semakin seru perang pendapat terjadi sampai sekarang. Ditambah lagi, Tom Lembong dan Gus Imin menyatakan hilirisasi dan eksploitasi nikel di Indonesia ugal-ugalan, merusak alam dan justru menyengsarakan masyarakat di sekitarnya.

Menteri Jokowi Reaktif

Dua menteri di Kabinet Jokowi sangat keras menentang pernyataan Tom Lembong dan Gus Imin. Menteri Luhut dan Bahlil yang paling nyaring karena dua menteri ini termasuk yang bersentuhan dengan industri nikel dan hilirisasi.

Serangan kedua menteri ini bukan hanya terkait substansi tetapi juga ada yang menyerang pribadi. Soal intelektualitas dan nama kampus pun dibawa-bawa. Bahkan kedua menteri tersebut siap adu data. Gus Imin diajak Luhut untuk melihat langsung industri nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.