Kontemplasi

Merdeka

Ardi Kafha
×

Merdeka

Sebarkan artikel ini
merdeka
Ilustrasi foto: Pexels.com/Rio Lecatompessy

BULAN Agustus adalah bulan kemerdekaan. Namun kita acap tak menelisik apa itu merdeka. Dan alhamdulillah, Islam kaya akan informasi dan konsep tentang “merdeka”.

Kita paham, Islam itu damai. Damai berarti bebas. Yakni, tidak tertuntut oleh alam semesta. Dan orang yang bebas dari tuntutan alam berarti telah menghargai hukum alam.

Nah, untuk bisa menghargai hukum-hukum alam, manusia harus berpengetahuan tentang alam. Artinya, ia berilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Agama adalah akal. Tidak ada kewajiban beragama bagi orang yang tidak berakal.”

Dengan demikian, berkondisi Islam sama dengan berakal. Dan orientasi akal terhadap alam struktural melahirkan ilmu. Dengan ilmu, niscaya manusia bebas dari kendala alam.

Bahwa kita manusia tidak sekadar memakan daging hewan, tapi juga mengerti pentingnya beternak. Bahwa kita tidak semata memakan sayuran, tapi juga mesti bercocok tanam. Bahwa kita bisa memanfaatkan tenaga surya, tenaga angin, dan seterusnya.

Singkat kata, berpengetahuan tentang alam semesta membawa kita bisa berdamai dengan alam. Kita merdeka dari kendala alam. Bahkan kita bisa mengenakan jubah alam semesta: ikhlas.

Betapa alam semesta itu berkondisi ikhlas, menyerah tunduk pada keputusan Tuhan. Dan kita yang bisa selaras dengan alam berarti telah berkondisi ikhlas. Tunduk pasrah sebagai hamba-Nya. Yang demikian itulah Islam.

Apakah mereka masih mencari agama selain agama Allah, sedang seluruh yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik dengan kehendaknya ataupun terpaksa. Kepada-Nyalah mereka yakin akan dikembalikan.” (Ali Imran: 83).

Namun berislam saja belum cukup, karena baru terbebas dari kendala alam. Kita belum bebas dari kendala sesama manusia. Kita mesti naik ke tangga berikutnya, Iman.

Dengan iman kita dapat meraih makrifat, mengenal Tuhan. Nah, orang yang makrifat akan mengenal orang lain sebagaimana ia mengenal dirinya sendiri. Bahwa orang lain sama dengan dirinya yang sama-sama butuh hidup, butuh berkembang, butuh harga diri, dan sebagainya.

Dengan iman, yang mengenal orang lain sebagaimana mengenal diri sendiri, niscaya saling menjaga, tidak saling mengganggu.

Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu untuk dirimu sendiri, jika kamu berbuat jahat pun, balasannya kamu pikul sendiri.” (Al-Isra: 7).

Dengan berbuat baik terhadap yang lain menandakan ia telah mengenal orang lain sebagaimana ia mengenal dirinya sendiri. Itulah tanda iman, tanda makrifat.

Maka, dengan Islam kita bebas dari tuntutan alam, dengan iman kita bebas dari kendala manusia. Kemudian, apa yang harus kita perbuat dengan kebebasan itu?

Ya, kebebasan itu sebenarnya bukan tujuan, melainkan situasi. Situasi yang memungkinkan kita untuk berbuat sesuatu. Bahwa setelah kita bebas dari, baik tuntutan alam maupun sesama manusia, adalah saatnya kita untuk membebaskan pihak lain.

“Pihak lain” itu adalah manusia dan semesta alam. Yakni berbuat baik kepada sesama manusia dan melestarikan alam dari kepunahan. Itulah makna ihsan. Berlaku bajik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, orang-orang yang tertindas, atau bahkan seekor nyamuk sekali pun. Bahwa mereka mesti memperoleh dan turut menikmati kemerdekaan sebagaimana yang kita hayati.