Sosial & Budaya

Monolog Kesambet, Eko Tunas Membuka Ruang Kritik Terhadap Kondisi Politik di Indonesia

Lukni Maulana
×

Monolog Kesambet, Eko Tunas Membuka Ruang Kritik Terhadap Kondisi Politik di Indonesia

Sebarkan artikel ini
monolog kesambet
Seniman Eko Tunas tampilkan Monolog Kesambet pada acara yang digelar di Rumah Pejuang Perubahan

BARISAN.CO – Rumah Pejuang Perubahan yang terletak di Jl. Citarum No 40, Kota Semarang menjadi saksi sebuah pementasan monolog yang mengkritisi kondisi politik Indonesia saat ini, Selasa (30/1/2024).

Budayawan Eko Tunas, seniman multilatenta yang telah lama dikenal dengan karya-karyanya baik naskah teater, cerpen, puisi maupun lukisan mempersembahkan monolog berjudul “Kesambet”.

Monolog Kesambet, sebuah judul yang mengingatkan kepada sosok budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun yang mana beliau mengucapkan kata ‘kesambet’ sehingga viral.

Pementasan monolog Kesambet ini tidak hanya menghibur tetapi juga membuka ruang kritis terhadap kondisi politik pemilu di Indonesia.

Rumah Juang Perubahan, sebuah ruang koordinasi relawan pendukung pasangan AMIN yakni Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar pada pilpres 2024. Dibawah naungan Relawan Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIeS) Jawa Tengah. Tidak hanya jadi ruang koordinasi pemenangan tapi juga menjadi wadah alternatif yang menampung beragam aspresiasi termasuk seni dan budaya.

Ternyata meski acapkali dibilang partisan, seniman Eko Tunas menunjukkan jiwa profesionalisme sebagai seniman yang kritis terhadap persoalan negeri ini. Monolog Kesambet dipentaskan dalam kegiatan Diskusi: Politik Kebudayaan yang dimeriahkan beragam penampilan seniman Kota Semarang baik itu dongeng, pembacaan puisi, musikalisasi puisi maupun musik.

Suasana ruangan yang intim menciptakan koneksi langsung antara seniman dan penonton, memperdalam dampak pesan yang ingin disampaikan. Terlebih lagi suasana pilpres 2024 yang semakin mengalami berbagai persoalan yang diperdebatkan baik persoalan dibolehkannya Presiden berkampanye.

Eko Tunas dalam pementasannya bercerita, apa bedanya Jokowi dan Presiden? Jawabannya cukup sederhana dengan properti yang dipakainya yakni peci.

Bedanya Jokowi dan Presiden, Eko Tunas cukup melepas peci. Jadi dapat disimpulkan secara sederhana, “Jokowi ketika tidak memakai simbol yakni peci, tapi ketika presiden memakai peci itulah presiden.

Jadi peci, sebagai simbol presiden di Indonesia, bukan sekadar aksesori mode tetapi memiliki makna mendalam yang merangkum identitas dan tanggung jawab kepemimpinan. Peci melambangkan kearifan lokal dan keberagaman budaya bangsa.

Dipakai oleh presiden, peci menjadi wujud penghormatan terhadap warisan budaya serta simbol kesederhanaan dalam melayani rakyat.

Dengan sorotan lampu yang remang-remang suasana kafe, Seniman Eko Tunas memulai monolognya dengan kalimat-kalimat puitis bahasa Mandar yang seolah-olah merangkai benang merah sebuah doa agar pasangan AMIN memenangi pemilu.

Melalui kata-kata indah dengan berbagai bahasa, Eko Tunas membawa penonton melewati perjalanan pikirnya yang kritis terhadap kondisi politik pemilu di Indonesia. Terlebih lagi saat ia berbicara dengan sosok Keranjang yang menjadi simbol rakyat, dan hamburan bedak berwarna putih seperti sebuah isyarat kekacauan.

Monolog Kesambet tidak hanya sekadar mengkritisi, tetapi juga menawarkan pandangan alternatif terhadap politik pemilu di Indonesia.

Sahabat dekat Cak Nun dan Ebiet G Ade ini secara terbuka menyampaikan kegelisahannya terhadap praktik-praktik politik yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai kebudayaan bangsa.