Berita

MTI: LRT Bisa Menekan Polusi Udara di Jakarta dan Sekitarnya

Yayat R Cipasang
×

MTI: LRT Bisa Menekan Polusi Udara di Jakarta dan Sekitarnya

Sebarkan artikel ini

Layanan LRT Jabodebek ditujukan untuk kelompok masyarakat menengah ke atas, supaya warga dapat meninggalkan kendaraan pribadi untuk beralih memakai angkutan umum, sehingga dapat mereduksi kemacetan lalu lintas di jalan.

BARISAN.CO – Wakil Ketua Pemberdayaan dan Penguatan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno menyatakan Kemenhub menetapkan tarif Lintas Raya Terpadu (LRT) pada 19 Juli 2023 dengan tarif termurah untuk satu kilometer pertama Rp5.000 dan Rp700 untuk setiap kilometer berikutnya.

“Tarif untuk jarak terjauh adalah Rp27.500. Dalam beberapa bulan setelah pengoperasian akan ditetapkan tarif khusus untuk menarik sebanyak mungkin masyarakat menggunakannya,” kata Djoko dalam pernyataan yang diterima Barisanco, Senin (4/9/20230.

Melihat stuktur tarif, kata Djoko, layanan LRT Jabodebek ditujukan untuk kelompok masyarakat menengah ke atas. Tujuannya, supaya warga dapat meninggalkan kendaraan pribadi untuk beralih memakai angkutan umum, sehingga dapat mereduksi kemacetan lalu lintas di jalan.

“Selain itu, setidaknya dapat membantu pula mereduksi polusi udara yang terjadi sekarang. Di sisi lain, kelompok masyarakat menengah ke bawah sudah disediakan KRL Jabodetabek dengan tarif yang lebih murah. Tarif LRT Jabodebek lebih tinggi dari tarif KRL Jabodetabek dikarenakan prasarana dan sarana semuanya baru,” tuturnya.

Namun, sambung Djoko, Pemerintah juga harus mengupayakan ongkos warga yang menggunakan tidak dari Rp50 ribu untuk pulang pergi. Termasuk ongkos dari tempat tinggal menuju stasiun terdekat (first mile), menggunakaan LRT Jabodebek dan stasiun tujuan menuju lokasi dikehendaki (last mile).

“Hasil survei saya sebelum pandemi, rata-rata pengguna kendaraan pribadi dalam sehari menghabiskan ongkos transportasi per hari kisaran Rp75 ribu hingga Rp100 ribu. Kemudian, ada pembanding layanan Bus JR Connection yang cukup laris bertarif Rp20 ribu sekali perjalanan berhenti di pusat Kota Jakarta, seperti Kawasan Blok M dan Monas,” kata Djoko.

Disampaikan Djoko, secara umum LRT Jabodebek dalam kondisi laik operasi. Angkutan pemadu moda (feeder) berupa bus juga dikabarkan sudah disiapkan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dengan biaya Rp5.000.

“Pentingnya aksesibilitas ke stasiun menjadi titik pelayanan LRT Jabodebek. Pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan akses yang mudah dan nyaman menuju stasiun tersebut. LRT Jabodebek adalah Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga seluruh stakeholder harus bekeja keras untuk menyukseskannya,” ujarnya.