Kontemplasi

Orang Berakal

Ardi Kafha
×

Orang Berakal

Sebarkan artikel ini
orang berakal
Ilustrasi foto: Unsplash/Kenny Eliason

Tokoh utama bagi orang yang berakal adalah Allah semata. Orang berakal itu sadar diri bahwa ia hanyalah objek dari segala tindakan dan ketentuan Tuhan

TANPA sadar kita telah menyekutukan Tuhan. Betapa tidak, bahwa ternyata kita lebih bersandar kepada kemampuan sendiri ketimbang berserah diri kepada Tuhan.

Bahwa sukses tidaknya dalam keseharian hidup, bersandar sepenuhnya pada usaha-usaha lahiriah. Kita bertumpu pada ungkapan, “usaha tidak akan mengkhianati hasil.”

Padahal sungguh, itulah yang celaka. Ibnu Athaillah menyebutnya sebagai orang lupa. Yakni orang-orang yang akan memulai hari dengan beragam pikiran apa yang hendak dikerjakan, seolah tanpa ketetapan dan takdir Tuhan.

“Apa yang akan kulakukan hari ini?” kata seorang pelupa.

Di sisi yang berseberangan, berdiri seorang yang berakal, orang yang cerdas, bahwa ia tidak lalai dengan ketentuan dan takdir Tuhan.

Orang tersebut akan menisbahkan segala sesuatu hanya kepada Allah. Ia menyaksikan kehadiran-Nya di balik yang ada. Ia akan mengawali pagi dengan berpikir, “Apa yang akan dilakukan Allah terhadapku hari ini?”

Jadi, tokoh utama bagi orang yang berakal adalah Allah semata. Orang berakal itu sadar diri bahwa ia hanyalah objek dari segala tindakan dan ketentuan Tuhan. Dirinya bukan penentu.

Ia tidak berani beranggapan bahwa upaya apa pun, termasuk ketaatan kepada-Nya, itu berasal dari upayanya sendiri.  

Nabi Saw. bersabda, “Seseorang di antara kamu tidak akan masuk surga dengan amalnya.” Para sahabat bertanya, “Engkau juga tidak, Wahai Rasulullah?” Nabi Saw. menjawab, “Aku juga tidak, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”

Maka, kebergantungan kepada-Nya merupakan kunci, sekaligus bukti kita bermakrifat kepada Allah. Bahwa harapan kita kepada-Nya tidaklah berkurang tatkala jatuh, pun juga harapan tidak bertambah ketika meraih sukses.

Senang susah tiada beda, toh hakikatnya semua berkat Dia yang Mahakehendak. Lagian begini, keputusan Tuhan itu bak dinding kokoh yang tak tertembus oleh kekuatan apa dan dari mana. Kuasa dan kehendak-Nya bebas dari internvensi siapa pun.

Ibnu Athaillah telah mengingatkan hal itu agar kita tidak memaksa diri. Karena, sekali lagi daya dan kekuatan toh sesungguhnya milik Allah. Bahwa berhasil tidaknya usaha-usaha lahiriah, bukan dari kerja keras kita, melainkan sepenuhnya keputusan Tuhan.

Kewajiban kita, semata berikhtiar itu sendiri, bukan sampainya kita pada yang diupayakan. Sampai tidaknya kepada hasil adalah urusan Tuhan, adalah takdir Tuhan. 

Sehingga jelas, mengupayakan sebab, berupa usaha fisik lahiriah, itu diperintahkan. Sementara, mengatur-atur hasil usaha lahiriah, yang sumbernya adalah hati dan pikiran, itu yang dilarang.

Nah, Ibnu Athaillah dalam aforisma al-Hikam menuntun kita agar menghindari sikap bergantung kepada selain Tuhan, termasuk bergantung pada segala amal kebajikan yang kita kerjakan.

Kiai Sholahuddin pun, dalam majelis hikam, menandaskan betapa mustahil apa-apa yang kita peroleh ini dari usaha kita sendiri. Siapa yang memberi kita kemampuan untuk mendirikan salat? Siapa yang meniupkan di hati kita untuk menghadiri majelis taklim? Siapa yang melapangkan hati untuk mendatangi pengajian? Bukankah yang melakukan semua itu Allah?   

Sekiranya prinsip tauhid itu yang tumbuh, niscaya kita tidak layak lagi membangga-banggakan amal ibadah. Kita juga tidak akan tesergap perasaan galau sekira harus hidup di tengah komunitas atau kelompok yang tidak sepaham. Sebab ada Allah di balik semuanya itu.