Kontemplasi

Pantaskan Diri

Ardi Kafha
×

Pantaskan Diri

Sebarkan artikel ini
Pantaskan diri
Ilustrasi foto: Pexels.com/Zachary DeBottis

ALLAH menegaskan, sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 152, “ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu.”

Nah, ingat kepada Allah itu ada dua model. Pertama, zikir bil lisan, yakni mengucapkan atau melafalkan kalimat-kalimat yang ada hubungannya dengan Allah, diistilahkan kalimah thoyyibah. Misal, baca Asmaul Husna, baca Al-Quran, dst.

Namun, berzikir dengan lisan ini merupakan zikir permulaan, yang diupayakan agar bisa menggapai zikir yang lebih tinggi. Maka, wajar saja sekiranya para ulama mengajarkan “sebutlah nama Allah” atau “basahilah lisan dengan menyebut asma Allah”, sebagai langkah awal dekat kepada-Nya.

Syekh Mutawali Sya’rowi mencontohkan, jika hendak minum, seyogianya meneguknya dengan empat tegukan. Dan di setiap tegukan yang pertama hingga ketiga melafalkan “bismillahi”, berikutnya “alhamdulillah” di tegukan terakhir, yang keempat.

Hal itu dilakukan, supaya tubuh ini terisi zikir. Karena air, yang telah beriring zikir, itu lebih cepat menyebar ke seluruh tubuh.

Kembali soal zikir lisan, hendaknya kita biasakan. Saking pentingnya, di mana kita berada, dan kapan saja, sebutlah nama Allah. Bisa dengan bacaan “subhanallah” atau lafal-lafal lain sebanyak-banyakknya. Sebab, setiap ucapan ini, kelak di hadapan Allah, akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka, di mana saja, sambil berkendara motor, misalnya, lisan kita tak putus untuk baca surat-surat Al-Quran yang dihafal, atau tasbih, atau yang lain. Pun saat bersama orang lain, di pos ronda, di serambi rumah, dst, plihannya, ya, lisan ini sebanyak-banyaknya zikir, atau diam. Omong sesuatu upayakan yang bernilai zikir.

Imam Nawwawi mengemukakan, majlis zikir adalah majlis yang banyak menyebut nama Allah, subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illa Allah, dan Allah akbar. Majlis zikir adalah di mana ayat-ayat suci dibacakan, ayat-ayat Al-Quran dan sabda Nabi Saw. dijelaskan. Majlis yang senantiasa ada ajakan kepada kebaikan, dan begitu seterusnya.

Itu berarti, saat kita beromong-omong dengan kawan, entah berdua, bertiga, atau berapa pun, jika isinya mengandung nasehat-nasehat kebaikan, bisa dikategorikan majlis zikir.

Oleh karenanya, setiap bermajlis, hendaknya paling tidak ada bacaan alhamdulillah dan shalawat, agar terkategorikan zikir, dan majlis ini pun, oleh Nabi Saw., dikatakan berbau harum. Yang demikian, niscaya menenteramkan, niscaya menenangkan.

Kedua, ingat Allah di dalam hati, dalam pikiran. Bahwa sesuatu itu billah, minallah, dan ilallah. Sadar, kita melakukan sesuatu itu bukan lantaran kemampuan kita, melainkan semata anugerah Allah. Kita menjalankan shalat, kita bisa bersedekah, dan sebagainya, itu karena Allah.

Mumpung, karena zikir tidak dibatasi, tidak sebagaimana shalat yang terbatas, baik tempat maupun waktu, marilah berzikir sebanyak mungkin, di mana pun berada.

Saat beromong ria dengan siapa pun, hati ini tetap bersambung kepada-Nya. Seperti cerita Imam Ahmad yang tengah dikerjai tetangganya. Suatu hari Imam Ahmad diundang ke rumah tetangganya. Sesampai di sana, tetangganya bilang bahwa ia tak mengundangnya, maka pulanglah Imam Ahmad. Begitu terus sampai tiga kali.

Dan yang keempat kali, tetangganya penasaran, “Wahai Imam Ahmad, Njenengan saya akali, tetapi kenapa tampak biasa saja. Njenengan tidak marah. Njenengan tetap datang, walau kemudian saya suruh pulang lagi.”