Perspektif Adib Achmadi

Pendidikan dan Nasib Dolanan Anak

Adib Achmadi
×

Pendidikan dan Nasib Dolanan Anak

Sebarkan artikel ini
Nasib Dolanan Anak
Ilustrasi foto: Pexels.com/Tobias Tullius

DIANTARA khasanah budaya tradisional adalah dolanan anak. Jenisnya bermacam-macam. Masing-masing daerah punya khasanahnya sendiri, meskipun untuk sebagian ada kesamaan.

Dulu, anak-anak akrab dengan berbagai jenis dolanan anak itu. Seiring berjalannya waktu, anak-anak kita mulai meninggalkannya. Dolanan anak makin menghilang dari kehidupan anak. Bahkan untuk sebagian, kalau tidak sebagian besar, tak dikenali lagi jejaknya.

Mengapa khasanah budaya tradisional itu tak diminati dan hilang dari peredaran dunia anak?

Dalam satu kesempatan diskusi kesenian tradisional di tahun 80an. Soedjatmoko berpendapat, pudarnya dolanan anak salah satu penyebabnya adalah sekolah.

Menurut begawan sosial itu, sekolah membawa kebudayaan kota yang tak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan desa. Sekolah menjadi tempat yang memiskinkan kebudayaan asli desa.

Dolanan anak hanya salah satu bentuk produk budaya tradisional yang keberadaannya terkikis oleh kehadiran sekolah. Khasanah lain dari kebudayaan tradisional seperti tata nilai, periaku dan mungkin juga seni budaya tradisional akan ikut tergurus oleh sekolah lantaran membawa kebudayaan baru. Persisnya kebudayaan modern.

Sekolah tak bisa menghindar dari arus besar modernisasi. Secara sistem, tata kelola maupun orientasi sekolah, menjadi berjalan seiring dan sebangun dengan alam pikiran modern.

Selain itu, keberadaan sekolah menjadi tempat menyiapkan manusia untuk mengisi mesin besar industrialisasi. Pun Ukuran keberhasilan sekolah akhirnya meruncing menjadi keterserapan lulusan di dunia kerja. Hebat dan sukses telah bergeser, dari soal kemuliaan dan manfaat menjadi soal ‘kepemilikan’ (kekayaan).

Pudarnya kebudayaan asli, akan makin tak bisa dihindarkan. Hal ini karena semua generasi muda masuk sekolah dan akan mengalami ‘pencerahan‘, kalau tak bisa dibilang ‘pencucian‘, modernisasi.

Itu artinya sekolah akan menjadi tempat pemiskinan budaya dari generasi ke generasi. Seperti nasib dolanan anak, bangunan kebudayaan secara umum akan lambat laun tergusur dan tergeser. Siswa maupun generasi muda pada umumnya makin tak tertarik dengan budaya sendiri dan makin meninggalkannya.

Gejala pemiskinan budaya itu terlihat dari kerisauan berbagai pihak seputar gandrungnya anak muda pada budaya asing (pop), makin pudarnya nasionalisme dan makin suburnya gaya hidup hedonis dan instan.

Anak-anak muda saat ini juga makin tak mengenal tata krama dan sopan santun. Keadaan yang makin merisaukan orang tua saat ini adalah meningkatnya perilaku menyimpang dikalangan generasi muda seperti tawuran, bullying, penggunaan narkoba, pergaulan bebas dan seterusnya.

Korupsi dan penyalahgunaan wewenang dikalangan pejabat, serta pelanggaran etika yang dilakukan para pemimpin. Itu merupakan satu keprihatinan tersendiri.

Satu episode kelam yang mewarnai panggung politik dan kenegaraan. Pelaku umumnya adalah kalangan terpelajar yang melekat gelar-gelar akademik.

Semua fenomena sosial tersebut di atas, tak bisa dilepaskan dari peran dan tanggung jawab sekolah. Bahwa sekolah saat ini tidak berhasil menjadi benteng kokoh pertahanan moral dan nilai-nilai budaya.

Sekolah kita saat ini gagal menjadi penyambung lidah kebudayaan kepada siswa. Sekolah hari ini seperti satu entitas tersendiri yang lepas dari lingkungan sosialnya. Hal ini yang kerap memicu kritik bahwa sekolah menjadi menara gading bagi masyarakat.