Kontemplasi

Perang Badar: Membaca dan Menulis

Ardi Kafha
×

Perang Badar: Membaca dan Menulis

Sebarkan artikel ini
perang badar, membaca dan menulis
Ilustrasi foto: Pexels.com/Piotr Arnoldes

Cara bertempur dengan pengaturan bershaf-shaf ini merupakan cara baru yang belum dikenal oleh masyarakat Arab. Mereka biasa berstrategi dengan menyerang dan lari. Sementara Nabi Saw. berhitung bahwa cara lama tak memadai lagi mengingat jumlah personil kaum Muslim sedikit dibanding lawan.

Selain pengaturan shaf, Nabi Saw. juga memilih lokasi yang tepat, dekat sumber air dan tidak menghadap ke matahari supaya tak mengganggu pandangan.

Dengan kekompakkan dan ketaatan kepada Nabi Saw. selaku komandan utama, tepat pada 13 Maret 624, pasukan Abu Jahal kocar-kacir tak keruan. Abu Jahal tewas dalam pertempuran. Pasukan Makkah benar-benar menderita kekalahan, padahal dari segi jumlah sangatlah banyak. Yang tewas sebanyak 70 orang, yang tertawan juga 70 orang, sisanya melarikan diri.

Sementara di kalangan Muslim, 14 orang yang gugur, enam dari kaum Muhajir, delapan sisanya dari kelompok Anshar.

Maka, Perang Badar berakhir dengan kemenangan bagi umat Islam dan kekalahan telak buat kaum kafir Quraisy.

Rasulullah Saw. memberikan pengampunan terhadap para tawanan dan menerima tebusan dari mereka, sesuai kemampuan harta yang mereka miliki. Dan tawanan yang tidak memiliki apa-apa dibebaskan tanpa membayar tebusan.

Nah, di antara tawanan yang tak memiliki uang tebusan, Rasulullah Saw. memutuskan sebuah tebusan dengan cara mengajarkan baca tulis. Bahwa setiap tawanan diwajibkan mengajari sepuluh anak. Zaid bin Tsabit termasuk yang belajar melalui cara tersebut.

Singkatnya, betapa Rasulullah Saw. sangat menghargai ilmu pengetahuan. Sang Nabi mengamarkan setiap anak di Madinah untuk pandai membaca dan menulis. [Luk]