Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Jeblok oleh Bank Dunia, ‘Bisa Pengaruhi Kondisi Fiskal Pemerintah’

Avatar
×

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Jeblok oleh Bank Dunia, ‘Bisa Pengaruhi Kondisi Fiskal Pemerintah’

Sebarkan artikel ini
Bank Dunia
Ilustrasi: net.

Analisa pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia memengaruhi kondisi fiskal pemerintah.

BARISAN.CO Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 4,9% antara tahun 2024 dan 2026. Prediksi ini lebih rendah dari pertumbuhan yang terjadi pada tahun 2022.

Proyeksi ini sejalan dengan kondisi perdagangan yang lemah, di mana inflasi diproyeksikan turun menjadi rata-rata 3,1% dan tetap dalam kisaran target yang direvisi oleh Bank Indonesia.

Menurut penelitian Bank Dunia, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan meningkat secara bertahap menjadi 1,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026. Faktor-faktor seperti harga komoditas yang rendah dan pertumbuhan global yang lemah menghambat ekspor.

Proyeksi ini membawa risiko negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, seperti kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi yang dapat membebani biaya pinjaman dan mempersempit akses ke pendanaan dari luar negeri.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga diidentifikasi sebagai faktor yang dapat mengganggu rantai nilai global, berpotensi menyebabkan penurunan tajam dalam nilai tukar perdagangan.

Ada juga faktor perubahan iklim, yang ini bisa mengakibatkan penurunan pendapatan dan membuat posisi fiskal Indonesia menjadi lebih ketat.

Atur Dompet & Ikat Pinggang

Ada hubungan penting antara analisa Bank Dunia dengan kondisi fiskal pemerintah. Menurut ekonom senior Awalil Rizky, ini adalah tahun-tahun di mana pemerintah pusat perlu mengatur keuangan rumah tangga secara lebih beres.

“Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia nyaris selalu mencatatkan nilai defisit sejak 2011. Artinya, jumlah nilai belanja lebih besar dibandingkan dengan pendapatan. Ibarat rumah tangga, ini adalah sebuah keluarga yang relatif sedang mengalami kesulitan keuangan menahun,” kata Awalil Rizky.

Langkah secara teoritis keuangan sebenarnya sederhana, menurut Awalil, yaitu kurangi pemborosan belanja dan lebih rajin bekerja atau menambah pendapatan. Jika itu belum dirasa cukup, maka selalu ada cara lain, yakni utang.

“Untuk menutup defisit anggaran, utang diperlukan untuk membiayai pengeluaran yang tidak termasuk dalam belanja. Contoh pengeluaran dimaksud antara lain adalah investasi kepada BUMN, investasi kepada BLU, dan pemberian pinjaman kepada BUMN atau Pemda,” katanya.

Namun berutang juga ada aturannya. Menurut Awalil, dalam pencatatan APBN, tambahan berutang disebut sebagai pembiayaan utang. Nilainya cenderung bertambah dari tahun ke tahun, dan sering melebihi nilai defisit.

“Jangan sampai hal itu diteruskan. Posisi utang yang terus bertambah berakibat memberi beban pembayaran pokok dan bunga utang makin besar,” kata Awalil. [dmr]