Esai

Perubahan yang Bagaimana

Eko Tunas
×

Perubahan yang Bagaimana

Sebarkan artikel ini
visi perubahan
Anies Baswedan

SEJAK pencapresannya Anies Baswedan telah mengusung idee perubahan. Hingga Koalisi Perubahan menentukan Cak Imin sebagai cawapres, idee perubahan itu dipastikan menjadi visi. Hingga bergulir jelang debat belum jelas misi dari visi perubahan itu.

Kecuali seperti yang dipahami para pengamat misi yang ada lebih sebagai antitesa terhadap program pemerintah Presiden Jokowi. Antitesa yang dimaksud pun tampaknya masih sebagai sintesa. Misalnya, keinginan Anies untuk membangun fasilitas Kereta Api, ketimbang meneruskan pembangunan IKN.

Lebih tampak sebagai antitesa, tatkala dalam debat ketiga, Anies mengedepankan mengenai misi kebudayaan. Lebih sebagai antitesa, sebab itu tercetus dalam debat bertema pertahanan. Satu tema yang bagi capres lebih mengutamakan aspek ketahanan militer.

Bahkan pada awal debat, baik Anies maupun Ganjar Pranowo melakukan kritik terhadap Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan. Misalnya, kritik Anies tentang kepemilikan ratusan ribu hektar Prabowo, sementara masih banyak prajurit yang tidak punya rumah.

Lalu Ganjar mengkritisi, kalau dia sebagai presiden tidak ada cerita Menhan beli alutista bekas. Malah Ganjar memberi nilai Prabowo sebagai Menhan dengan angka lima. Dalam pada itu Anies yang terpancing Ganjar justru memberi nilai 11 dari 100. Di sini ada kesan publik, capres Prabowo dikeroyok dua capres.

Juga ada pengamat yang mengatakan, itu bukan debat antar capres. Tapi debat antara dua capres dengan satu menhan. Atau pengamat lain mengatakan, ini debat antara dua politikus dan satu negarawan. Terlepas dari pengamatan itu, tentu saja penilaian terpulang kepada masyarakat pemilih.

Baru pada paro debat, Anies mengemukakan mengenai seni budaya Indonesia sebagai pertahanan budaya. Kekayaan budaya, termasuk di dalamnya keragaman kuliner, yang bisa menjadi kehormatan bangsa di mata dunia internasional.

Ia pun mencontohkan, mestinya pejabat kita kalau mengadakan pertemuan di luar negeri, juga membawa duta seni budaya. Atau bagaimana kita membuat pusat-pusat seni budaya di kota-kota di luar negeri. Atau membuat galery-galery kuliner, sebagaimana banyak kuliner asing yang membanjiri kota-kota di negeri kita.

Tampaknya itu akan menjadi misi atas visi perubahan. Sekaligus antitesa terhadap pemerintah, dan misi yang memang beda dari pertahanan yang selalu titik beratnya pada ketahanan militer. Bagaimana seni budaya pun bisa menjadi ketahanan budaya bagi negara yang kaya akan seni budaya.

Tapi ada yang terlupa, bahwa itu masih sebatas kebudayaan sebagai nilai. Nilai-nilai seni yang memang merupakan aset budaya. Mesti ada kelengkapan budaya sebagai institusi, di mana kebudayaan sebagai sektor kehidupan akan menjadi kekuatan. Kekuatan sebagaimana sektor ekonomi, politik, hukum dst.

Sebagaimana Pancasila adalah produk budaya, dan Pancasila adalah filosofi bangsa untuk mengatur politik. Sekaligus sebagai dasar atau kekuatan sebagai fundamen pertahanan bangsa. Soekarno menyebut kata yang tepat dari ketahanan politik kebudayaan Pancasila itu sebagai weltanchaung. Kekuatan pertahanan dari watak bangsa Indonesia.

Akan tetapi dalam dasar politik kebudayaan yang telah berubah menjadi politik ekonomi yang berujung pada kapitalisme-liberalisme, tampaknya ideologi Pancasila sudah banyak dilupakan.***