Sosial & Budaya

Pesantren Sastra Bedah Buku ‘Penyair Sebagai Mesin’

Lukni Maulana
×

Pesantren Sastra Bedah Buku ‘Penyair Sebagai Mesin’

Sebarkan artikel ini
penyair sebagai mesin sastra
Agenda kegiatan Pesantren Sastra bedah buku bersama Malkan Junaidi dan Martin Suryajaya

Edisi perdana kegiatan sastra dibawah naungan Pesantren Sastra ini akan membedah buku berjudul Penyair Sebagai Mesin karya Martin Suryajaya

BARISAN.CO – Penyair penulis buku Kumpulan Puisi Panen, Beno Siang Pamungkas menghadirkan ruang kreatif kesusastraan dan kebudayaan di Kota Semarang yang dinamai Pesantren Sastra.

Edisi perdana kegiatan sastra dibawah naungan Pesantren Sastra ini akan membedah buku berjudul Penyair Sebagai Mesin.

Tidak hanya bedah buku, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi sastra yang menghadirkan penulis buku Penyair Sebagai Mesin, Martin Suryajaya yang akan dibedah penyair Malkan Junaidi.

Selain itu para penikmat sastra juga akan mendapat suguhan performance oleh Mentari Isnaeni yang akan merespons buku karya Martin Suryajaya.

Agenda kegiatan bedah budah dan diskusi sastra ini akan dimoderatori Adin dari Hysteria atau yang memiliki nama M. Khoirudin. Diselenggarakan pada hari Sabtu 15 Juli 2023, mulai pukul 19.30 wib, bertempat di Angkringan Cuprit kompleks TBRS, Jl Sriwijaya no 29 Semarang.

Pengasuh Pesantren Sastra, Beno Siang Pamungkas mengatakan akan menggelar bedah buku dan diskusi sastra yang melibatkan Empat M. Penulis buku Penyair Sebagai Mesin, Martin Suryajaya, dibedah oleh Malkan Junaidi dengan moderator M Khoirudin “Adin” Salahadin Mbuh.

“Dan dimeriahkan performance oleh Mentari Isnaini ,” imbuhnya.

Menurut Beno, Martin adalah sosok pemikir kebudayaan yang karya dan pemikirannya selalu menimbulkan kehebohan serta diperbincangkan banyak orang.

“Selain menulis novel, puisi serta risalah filsafat, bukunya yang terbaru ini berusaha mengulik dan mengangkat tema kecerdasan buatan (AI),” terangnya, Rabu (12/07/2023)

Malkan Junaidi selain dikenal sebagai penyair dan penulis kritik sastra yang handal, selama ini sering menceritakan sendiri sisi lain dirinya sebagai seorang petani dan kuli bangunan yang kompeten.

“Dua dunia yang seolah berseberangan tersebut (akal dan okol) bisa dijalani dengan sukses dan riang gembira, sehingga membuat portopolionya kian unik,” jelasnya.

Sementara, moderatornya yakni Adin yang semula lebih dikenal sebagai EO seni dan budaya lewat Kolektif Hysteria belakangan semakin menunjukkan eksistensinya sebagai seorang kreator serta pemikir dengan ide-idenya yang liar guna membangun dan memanfaatkan jejaringnya yang tersebar di dalam mau pun luar negeri.

Juga, Mentari Isnaeni adalah salah satu penari handal kota Semarang yang sering terlibat dalam beragam peristiwa kesenian.

“Terutama yang intens mengangkat isu-isu lingkungan hidup dan fenomena urban,” sambungnya.

Beno berharap kegiatan dibawah naungan Pesantren Sastra edisi perdana ini dapat sukses dan memohon dukungan kepada para pihak untuk menghadiri agenda sastra di Semarang ini.

“Pesantren Sastra edisi perdana ini tidak akan sukses tanpa kehadiran dan doa serta dukungan Njenengan-njenengan semua, para pecinta dan publik sastra budaya dari Kota Semarang dan sekitarnya. Kami tunggu ya?,” ujarnya. [Luk]