Esai

Politik Satria Piningit

Eko Tunas
×

Politik Satria Piningit

Sebarkan artikel ini
Politik Satria Piningit
Ilustrasi foto/et

PARA wali cukup pusing saat mau mengangkat Sutawijaya sebagai raja Mataram. Suta kerjanya hanya main-main di dalam hutan. Tiduran di satu batu besar. Tidak mau mencukur rambutnya. Lebih dari itu selalu tampak seperti orang dungu.

“Bagaimana ini, Pemanahan, Suta dibilang dungu,” kesah Penjawi, “bagaimana nanti bilang para wali.” Pemanahan tampaknya tidak mempedulikan mengapa bagaimananya Sutawijaya. Hanya dirinya yang mafhum misteri nama Sutawijaya, sejak peristiwa kelapa ijo.

Ada trah yang ia ugemi sebagai kekuatan Suta sebagai calon raja. Suta berarti putra, dan Wijaya dari nama Hadiwijaya. Ya, Sultan Hadiwijaya adalah raja dari kerajaan sebelumnya, Pajang. Ingat kisah Mas Karebet Joko Tingkir. Meski sebutannya Mas, tanda dari trah wanita, mereka tetaplah darah biru.

Di dalam hutan itu Suta bergaul dengan kecu, lacur, begal, penjudi. Meski ia juga belajar olah kanuragan, dan sesekali Pemanahan atau Penjawi memberi pengajian untuk mereka. Suta juga bicara dengan pohon dan binatang. Membaca alam semesta di malam hari.

“Biarlah begitu,” ucap Pemanahan kepada Penjawi, “nanti kita lihat bagaimana jadinya.” Penjawi pun menohok, “apa ini isyarat sang Yogi, bagaimana penamaannya jika para wali bertanya. Pemanahan pun menjawab, “sebutlah calon raja ini sedang menjalani laku satria piningit.”

Satria piningit inilah sang pemula Mataram Islam bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Panatagama. Bahkan menurunkan raja besar hingga Amangkurat. Termasuk Sultan Agung yang memimpin perlawanan terhadap Belanda VOC ke Batavia.

Pada awal reformasi, istilah Satria piningit menyeruak di tengah jagad politik modern. Satu negasi impian bangsa setelah selama 32 tahun terbelenggu pemerintah represif militerian sang despot Jendral Besar Soeharto. Para budayawan dan intelektual merindukan risalah Satria piningit.

Mereka lupa bukan kehadiran satria piningit yang penting, tapi bagaimana mengubah sistem. Sebab seribu Satria piningit berganti pun hanya berganti orang, tidak mengubah apapun. Kekuasaan tetap berjenis kelamin lelaki, dan rakyat adalah nasib perempuan yang tertindas.

Itulah sebabnya, Soekarno menerapkan sistem politik kebudayaan sebagai dasar politik kita. Tapi Soeharto orde baru mengubahnya menjadi politik ekonomi yang jelas ujungnya adalah kapitalisme liberalisme.

Sistem politik jadi berbalik menjadi seperti di jaman kolonialisme, hingga era reformasi kini. Maka yang kita tunggu bukan sekadar satria piningit, melainkan satria yang mampu mengembalikan sistem politik ekonomi kapitalisme-liberalisme ke dasar politik kebudayaan Pancasila.*